Welcome To Library Corner

Strategi Pemasaran Jasa Perpustakaan

Pendahuluan

Istilah Perpustakaan telah memberi konotasi tentang adanya aktivitas peminjaman
dan pengembalian materi perpustakaan. Kebanyakan, apa yang dipinjamkan dikembalikan adalah berupa buku-bllku, sedarigkan materi perpustakaan yang lain seperti majalah, surat bakar, bentuk mikro, hanya boleh Jibaca di perpustakaan saja.
Perpustakaan dapat dikatakan sebagai suatu Jembaga yang membantu OJang-orang datang untuk memanfaatkan jasanya. Menurut pengertian ini, perpustakaan tidak dimaksudkan sebagai lembaga yang ingin mencapai tujuan laba, tetapi lebih mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.

Walaupun perpustakaan sebagai organiƁasi yang "nirlaba" dalam hal melayani masyarakat pembaca atau pencari informasi, perpustakaan juga perlu menerapkan
falsafah dan prinsip-prinsip pemasaran yang modern agar dapat mencapai tujuan
organisasional dengan haik. Banyak buku-buku karya pakar bidang pemasaran baik
pemasaran untuk organisasi yang berorientasi laba maupun nirlaba, di aNaranya Kotler
(1991), Kotler dan Andreasen (1995), Kats (199]), Tjiptono (1995).
Pada makalah ini akan dicoba menerapkan teori atau konsep pemasaran tersebut
dalam ~masaran jasa perpustakaan.

Konsep Pemasaran

Pemasaran sebagai fungsi bisnis, mengidentifikasi kebutuhan dan tuntutan yang
belum terpenuhi, menentukan siapa peJanggan atau pengguna dari suatu produk atau
jasa (yang disebut dengan pasar target) yang dapat dilayani dengan sebaik-baiknya
oleh organisasi, menetapkan produk, jasa atau layanan dan program program untuk
melayani pasar-pasar tersebut, dan mengundang setiap orang dalam organisasi untuk
berfikir dan melayani pelanggan. Jadi suatu definisi praktis dari fungsi pemasaran
memasukan tiga segi : mengindentifikasi kebutuhan pembeli dan pembeli potensial
dalam pangsa pasar mereka; Memuaskan kebutuhan itu dengan menjual jasa atau
produk sesuai; membuat laba(Katz, 1991:1).

Tentu saja ada perbedaan dasar dalam fungsi pemasaran pada perusahaan (berorientasi laba) dan organisasi nirlaba. Perbedaan nyata terletak pada sumber dana dan dampaknya terhadap organisasi. Perusahaan memperoleh modal pertamanya dari investor atau pemodal. Jika perusahaan telah berjalan, dana operasional perusahaan terutama diperoleh dari hasil penjualan produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan itU.Dalam hal ini perusahaanhanya menghadapisatu unsurpokok yaitu konsumen. Jika produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan dapat memuaskan konsumennya. maka transaksi akan terjadi dan perusahaan mempunyai dana untuk melanjutkan aktivitasnya.

Sebaliknya, organisasi nirlaba mempero1ch anggaran dari donor atau lembaga induk. Dengan anggaran yang diperolehnya itu, organisasi menghasilkan produk atau jasa yang kemudian dit~warkan kepada konsum~nnya. Berbeda dengan perusahaan,apabila produk dan jasa yang dihasilkau oleh organisasi nirlaba itlltemyata tidak sesuai dengan ebutuhan dan keinginan konsumen, pihak donor masih mungkin akan memberi dana lagi, apabila kalau pihak donor masih menganggap organisasi itu baik. Sebaliknya mungkinjuga terjadi, meskipun produk danjasa yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. belum tentu menjamin bahwa anggaran dari donor untuk organisasi nirlaba itu akan ditingkatkan.

Konsekuensi dari perbedaan ini adalah bahwa ukuran keberhasilan perusahaan dan organisasi nirlaba berbeda. Perusahan yang pada dasamya berorientasi terhadap
laba, dianggap sukses jika berhasil meraup untung yang besar. Pada organisasi nirlaba, meskipun berhasil memperoieh dana yang lebih besar dari donor, mungkin saja gagal dalam memanfatkan sumber daya itu secara efektif dan efesiaen bagi pemenuhan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, kemampuan organisasi nirlaba
dalam memperoleh sumberdaya tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan organisasi.
Keberhasilan organisasi nirlaba dengan demikian, harus diukur dari sejauh mana produk
dan jasa yang dihasilkan organisasi telah memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen
(Wirawan, 1994: 24, juga Kotler dan Andreasen, 1995:42 ff).

Bagaimana dengan perpustakaan?

Inti pokok dari penetapan dan identifikasi kelompok-kelompok sasaran (pasar target) yang akan dilayani, bukanlah pada pengenalan siapakah mereka saj<,1,tetapi yang utama adalah apa yang mereka butuhkan, inginkan dan harapkan. Apa yang dibutuhkan oleh mereka diharapkan dapat terwujud dengan dri-dri atau karakteritistik,.dari apa yang ditawarkan oleh perusahaan atau organisasi, terwujud pada ciri-ciri produk atau jasa yang dilayaninya. Oleh karena itu sebelum perusahaan merancang dan mewujudkan penawarannya, ia harus mempunyai informasi yang akurat dan mutahir mengenai manfaat apa yang dibutuhkan dan diharapkan oleh kelompok-kelompok pasar'Sasaran yang akan dilayani (Astuti,1994:59)

Bila hal tersebut dikaitkan dengan aktifitas pada layanan perpustakaan pada lembaga Perguruan TInggi, misalnya, maka target pasarnya sudahjelas. yaitu pengguna utamajasa layanan perpustakaan yang terdiri dari dosen maupun mahasiswa. Adapun
manfaat yang sangat mendasar yang dibuthkan dan diharapkan oleh pasar target adalah
ketersediaan informasi yang membantu usaha memperkaya pengetahuan dan teknologi.
berkembang pulalah kebutuhan terhadap sarana pendukungnya. Dcmikian pula terjadi
perubahan tuntutan dan kebutuhan akan jasa layanan perpustakaan. Setelah atau organisasi dapat mengidentifikasi kebutuhan mendasar dan keinginan yang spesifik sifatnya dari pasar target, langkah lanjut yang segera diambil adalah merancang konsep produk dan jasa pelayanan yang akan ditawarkan dan disajikan untuk mencukupi kebutuhan dan memberikan kepuasan.

Aktifitas menmcang konsep produk bukanlah merupakan tanggung jawab satu
bagian tertentu dalam organisasi saja, tetapi perlu adanya keterlibatan dan kerjasama
secara terpadu dann terkoordinir dari semua orang dalam organisasi. Hal ini berlaku
bagi perusahaan yang memprodusir produk berwujut maupun pada organisasi nirlaba.
Selanjutnya pembicaraan mengenai konsep produk diarahkan pada rancangan jasa
yaitu produk yang dipasarkan oleh perpustakaan yaitu informasi.
.
Padatingkatpertama,produkinformasidapatdidefinisikansebagaitechno-physi-
cal objects dirancang orang untuk menyatakan, menyimpan, menyampaikan danI atau
transfer komunikasi atau bentuk simbul informasi dari suatu sumber tertentu kepada
satu atau lebih sasaran target. Diantara techno-physical objects dan file, peta dan
gambar, rekaman suara dan gambar, lukisan dan artefak musium), juga produk
elektronik terbaru (seperti produk pangkalan data dan perangkat lunak komputer,
produk bebasis telekomunikasi),

Pada tingkat kedua, produk informasi termasuk di dalamnya semua yang mempunyai ciri tertentu berupa real-time events dirancang untuk menyatakan penyampaian dan transfer komunikasi atau simbul-simbul informasi. Comoh produk informasi semacam ini Uuga menunjukkan layanan informasi) termasuk didalamnya siaran berita berbagai frekuensi, antar muka pemakai dengan sistem terpasang, presentasi dengan nara sumber pada lokabarya.

Itu semua menurut Mwshowitz (1992) produk infonnasi dapat menjadi komoditi (infonnation commodity) dalam pengertian komeisiil apabila dapat dimiliki. punya
nilai dan dijual (TIamiyu, 1993:209).

Sebagai komoditi pada dasamya jasa memiliki perbedaan-pcrbedaan tertentu
dibandingkan dengan produk berwujud secara fisikoJasa memiliki karakteristik khusus
yang sangat mempengaruhl rancangan progr.ampemasarannya. Karakter jasa meliputi:

a. Tidakterujud.
Jasa tidak berwujud (intangible), tidak sepelti produk fisik,jasa tidak dapat dilihat,
dirasakan dan dipegang sebelum dibeli. Untuk memperkecil tingkat ketjdak pastian-
an (uncertainty), pembeli akan m~ncari tanda-tanda atau bukti-bukti dari kualitas jasa sebelum membelinya.

b. Tak dapat dipisahkan (inseparability).
Jasa diprodusir dan dikonsumsi pada saat yang bersamaan. TIdak seperti pada
barang fisik yang dibuat di pabrik, disimpan dan kemudian dijual, akhimya dikomsumsi.
Jasa yang disumbangkan atau dilakukan oleh seseorang, membuat orang tersebut
menjadi bagian daii jasa pclayanan tersebut. Keduanya baik penyaji maupuri klien
bersama-sama mempengaruhi hasil jasa. Dalam kasus jasa hiburan (intertaint) dan
jasa profesional para pembeli sangat memperhatikan siapa penyajianya.

c. Bervariasi(variability).
Jasa sangat variabel sipatnya, tergantung pada siapa, kapan dan dimanajasa disajikan.
Para pembeli jasa menyadari akan variabilitas yang tinggi dari jasa dan mereka akan
sering berbicara dengan orang lain sebelum memilih s~orang penyaji jasa

0 Comments:

Post a Comment