Welcome To Library Corner

A. Membangun kembali pelayanan perpustakaan
Dalam masyarakat terjadi perubahan baik gaya hidup, cara hidup, maupun cara pandang. Dalam masyarakat juga terjadi pergeseran nilai. Apa yang dulu dipandang tidak penting, saat ini mungkin menjadi krusial; apa yang dulu sangat dibanggakan, saat ini bisa jadi telah diabaikan masyarakat. Hal-hal demikian terus terjadi oleh karena adanya pergeseran dan perubahan dalam masyarakat.

Hal lain yang juga berubah dan berkembang adalah teknologi. Perubahan dalam kaitan teknologi sangat besar dan sangat mempengaruhi tata kehidupan masyarakat pada umumnya. Sebagai contoh, dahulu orang tidak merasakan kesulitan apapun kalau tidak berkomunikasi dalam waktu yang agak lama. Kemudian terjadi perubahan yang sangat besar saat telepon genggam banyak di pasaran. Orang merasa tidak nyaman pada waktu dia tidak membawa atau tidak mempunyai sebuah telpon genggam. Kemanapun orang pergi, telpon genggam selalu mengiringinya. Perkembangan yang terjadi selanjutnya adalah sebagian orang merasa tidak nyaman apabila hanya membawa satu telpon genggam. Demikian pula perkembangan laptop maupun umpc. Banyak mahasiswa sekarang ini membawa laptop untuk dibawa ke kampus. Laptop pun berkembang. Kalau laptop tidak dapat digunakan untuk mengakses internet, maka laptop tersebut dianggap sangatketinggalan.

Tentu saja masih banyk perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan kemudian hal tersebut memicu terjadinya perubahan nilai dan peraturan. Tata krama dalam menggunakan teknologi juga muncul setelah teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam masyarakat.

Hal yang sama juga terjadi dalam dunia perpustakaan. Tiga sampai empat puluh tahun yang lalu, orang melihat perpustakaan sebagai tempat menyimpan buku dan tulisan dalam media lainnya. Untuk dapat membaca atau meminjam bahan pustaka yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan pada waktu itu, orang harus datang ke perpustakaan tersebut dan mencari bahan pustaka yang diinginkan melalui katalog kartu. Pemakai dapat membaca buku di dalam perpustakaan atau membawa pulang dengan menyelesaikan administrasi peminjaman dan keanggotaannya terlebih dahulu.

Hal tersebut telah berubah saat sekarang ini. Pengguna perpustakaan tu, saat ini tentu saja sangat berbeda dengan pengguna perpustakaan pada masa tiga sampai empat puluh tahun yang lalu. Pengguna perpustakan saat ini datang ke perpustakaan dengan membawa laptop dan mengakses dan membaca informasi melalui laptop yang dibawanya ke perpustakaan. Pemandangan seperti itu telah menjadi hal yang biasa di dalam perpustakaan. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh perpustakaan adalah menyediakan kebutuhan-kebutuhan pengguna dan melihat respons dari para pengguna tersebut serta selalu melihat perkembangan yag terjadi dalam diri para pengguna tersebut dan kemudian memenuhi atau memberikan lebih dari sekedar keinginan mereka tersebut. Hal seperti inilah yang kemudian disebut dengan patron-centered. Di Indonesia sering disebut berorientasi kepada pengguna. Hal demikian tentu saja membutuhkan perhatian yang terus menerus. Pustakawan harus menjadikan suasana perpustakaan seperti yangdiinginkan penggunanya dan pengguna harus merasa ada dalam lingkungannya. Ini menuntut adanya perubahan pola pikir pustakawan. Pustakawan tidak dapat menjadikan pengguna berada dalam lingkungan perpustakaan, tetapi justru perpustakaan berada dalam lingkungan penggunanya.

Dengan adanya perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat tersebut, maka pustakawan harus melihat hal ini dari sisi positif. Pustakawan harus mampu memahami perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan berusaha mengikuti dan kemudian mengubah pola-pola layanan perpustakaan serta landscape perpustakaan agar sesuai dengan perkembangan dan perubahan tersebut. Banyak contoh yang dapat dilakukan di perpustakaan dengan adanya perubahan dan penyesuaian atas perubahan tersebut. Sebagai contoh, dengan adanya laptop yang dibawa pengguna, maka perpustakaan menyediakan fasilitas listrik dan jaringan internet melalui WIFI. Perpustakaan juga dapat menyediakan fasilitas untuk mengisi baterai telpon genggam, atau penyediaan cafe di dalam perpustakaan agar pengguna dapat berada di dalam perpustakaan lebih lama.


B. Membangun kepuasan pengguna perpustakaan
Dalam libQual yang diadopsi dari ServQual, ada lima dimensi yang menjadi pertimbangan dalam pelayanan perpustakaan, yaitu reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan tangibles. Kelima dimensi ini sering dijabarkan menjadi sepuluh dimensi.

Reliability berarti memberikan layanan kepada pengguna seperti yang diinformasikan kepada penggunanya. Sebagai contoh, kalau pada leaflet tertulis jam buka adalah jam 8 maka perpustakaan tersebut tidak boleh terlambat dalam membuka layanan dari jam yang telah dijanjikan tersebut. Demikian pula halnya, apabila perpustakaan akan tutup, maka perpustakaan tidak boleh menutup layanan sebelum jam yang dijanjikan.

Responsiveness adalah memberikan layanan dengan cepat dan berusaha menyelesaikan layanan secepat mungkin. Perpustakaan harus berusaha agar pengguna tidak terlalu lama menunggu layanan yang dibutuhkan. Ketepatan dan kecepatan layanan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kualitas layanan.

Assurance adalah jaminan dari perpustakaan bagi para penggunanya. Pustakawan sudah selayaknya dapat dipercaya dan menunjukkan rasa hormat kepada para penggunanya dan selalu memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal yang terakhir ini—rasa percaya diri—harus dibangun sejak pustakawan memasuki pendidikan ilmu perpustakaan.

Empathy merupakan bentuk pemberian layanan secara individual bagi para penggunanya. Pustakawan sudahseharusnya mudah didekati dan dapat berbicara dengan para penggunanya dengan santun dan knowledgeable. Di sisi lain, pustakawan juga seharusnya menjadi pendengar yang baik dan dapat memahami kebutuhan dan keinginan para penggunanya. Pustakawan harus mampu mengubah kritik dan keluhan menjadi sesuatu yang positif.

Tangibles lebih berupa hal-hal yang kasad mata dalam memberikan layanan kepada pengguna. Terkait dengan tangibles ini adalah fasilitas fisik untuk memberikan layanan. Salah satu bentuk tangibilitas fasilitas fisik dapat yang baik dalam pelayanan perpustakaan adalah kebersihan tempat pelayanan. Dan kebersihan serta kenyamanan ini harus terlihat di mata para pengguna perpustakaan.

C. Menjadikan pustakawan sebagai pemasar
Membangun motivasi sangat penting bagi pelayanan perpustakaan. Sebagai pustakawan atau orang yang bekerja di perpustakaan, sudah waktunya para pustakawan menciptakan apa yang disebut ”a rewarding professional experience” untuk diri pustakawan.

Pustakawan perlu melihat pekerjaan sendiri dan bagaimana pustakawan melihat posisinya dalam lembaga induknya. Dan bagaimana peran pustakawan sendiri dilihat orang lain dalam lembaga induknya dan bagaimana pustakawan meningkatkan posisinya di dalam lembaga induknya. Kesemua itu merupakan dasar dari pemasaran.

Pemasaran adalah proses perencanaan dan implementasi strategi untuk membangun kesadaran, penerimaanm promosi dan distribusi layanan sumber informasi dan produk perpustakaan.

Perlu diingat bahwa bisnis pustakawan adalah perpustakaan. Untuk itu pustakawan perlu menerapkan mentalitas pemilik (self-employed). Pustakawan harus melihat perpustakaan sebagai bisnisnya dan pustakawan tidak perlu mencari definisi perpustakaan secara umum namun mendefinisikan perpustakaan sendiri sebagai media pemasaran gna menarik lebih banyak pengguna. Jiwa pemasar harus dimiliki oleh seorang pustakawan.

Pustakawan tidak dapat dikatakan memiliki jiwa pemasaran bila hanya menyediakan layanan apabila ada kebutuhan dan tidak pernah memiliki inisiatif apapun dan hanya melakukan kegiatan rutin perpustakaan. Pustakawan tidak dapat dikatakan memiliki jiwa pemasaran bila penggunanya tidak mengetahui layanan yang disediakan dan pengguna juga tidak dapat memanfaatkan sumber informasi dan layanan yang disediakan.

Jiwa pemasaran hanya dimiliki oleh pustakawan yang berani menghadapi tantangan dan selalu berusaha meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya.

Pustakawan harus berani ”menjual sosok diri kepustakawanan”, ketrampilan dan sumberdaya perpustakaan. Pustakawan yang berjiwa pemasaran juga selalu proaktif dan memiliki inisiatif serta selalu terlibat dalam berbagai ketrampilan non-perpustakaan. Pustakawan juga harus selalu ”in the know” dan selalu berusaha menjadi pusat informasi dan komunikasi. Pustakawan harus selalu memposisikan diri untuk menyampaikan informasi dan mampu hadir dalam berbagai kegiatan di luar kepustakawanan untuk bercerita tentang perpustakaan dan pustakawan

Kegiatan-kegiatan kecil seringkali bisa menjadiawal dari suatu capaian yang besar. ”Nothing is really work unless you would rather be doing something else (James M. Barrie).

0 Comments:

Post a Comment