Welcome To Library Corner

Oleh.
Daryono, S.Sos
(pustakawan UNS Surakarta)

1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dewasa ini menuntut terhadap Joint Steering Committee for Revision AACR2 dan Committee of Princilpes for AACR2 untuk melakukan pengembangan sistem pengatalogan sesuai dengan perkembangan yang ada. Dari tuntutan tersebut tepatnya pada bulan April 2005 JSCR dan CoP mengadakan pertemuan di hicago untuk membicakan cara terbaik untuk mengembangkan kode pengatalogan yang baru untuk menggantikan AACR2. AACR yang terbit pada tahun 1978 dan telah mengalami beberapa kali revisi yang sampai saat sekarang masih digunakan sebagai standar pengatalogan sebagian besar perpustakaan di dunia telah mengalami banyak kritik, karena AACR menjadi kode pengatogan yang terlalu komplek, terlalu kuno, karena berlandaskan konsep-konsep dari zaman katalog kartu, dan terlalu sulit untuk diterapkan untuk sumber-sumber digital yang baru.
Untuk memberikan respon atau umpan balik terhadap kritikan atau masukan dari kalangan perpustakaan atau lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam penyusunan peraturan pengatalogan, maka diputuskan bahwa diperlukannya kode baru untuk menggantikan AACR2 dengan pendekatan yang berbeda dari yang ada pada draft Part 1. Untuk menandai haluan baru tersebut sepakat untuk memberikan working title yaitu RDA ( Resource Description and Access). RDA ini akan menjadi standar baru untuk deskripsi sumber dan akses yang dirancang untuk kepentingan dunia digital, RDA akan menyajikan suatu kerangka yang fleksibel untuk menhadapi tantangan mendeskripsikan sumber-sumber digital, data yang lebih mudah disesuaikan dengan struktur pangkalan data yang lebih efisien dan kompatibel dengan cantuman yang telah ada dalam katalog perpustakaan online, karena landasn RDA ada di dalam prinsip-prinsip yang ada dalam AACR.
RDA dibangun atas landasan AACR dan akan merupakan suatu perangkat petunjuk dan instruksi untuk deskripsi (resource description) dan akses yang mencakup semua jenis isi dan media dan dirancang untuk dunia digital. RDA akan menjadi suatu kerangka yang lebih fleksibel untuk menhadapi tantangan mendeskripsikan sumber-sumber digital. Standar baru ini dikembangkan terutama untuk perpustakaan, namun JSC berkonsultasi dengan komunitas lain (arsip, musium, penerbit, pendidik, pedagang buku, vendor Integrated Library Systems) supaya RDA searah dengan standar metadata yang digunakan di komunitas tersebut.
Saat ini IFLA sedang merevisi Paris Principles tahun 1961, jadi RDA dan revisi berlangsung pada waktu yang sama. RDA dan revisi Paris Principles merupakan dua projek yang terpisah, namun apa yang sedang dikerjakan dilakukan dengan saling memperhatikan, sebab kedua projek masih terkait. Antara JSC dan IFLA memang terdapat hubungan kerjasama formal, yang diperkuat oleh struktur keanggotaan dalam kelompok kerja masing-masing. Misalnya: anggota JSC berpartisipasi dalam rangkaian pertemuan pertama para pakar pengatalogan dan masih tetap berpartisipasi dalam penyusunan Statement of International Cataloguing Principles.

2. RDA ( Resources Description and Access)
RDA ( Resources Description and Access) merupakan standar baru untuk mendeskripsikan sumber daya dan akses informasi yang dirancang di era digital dan berbasis web yang akan melibatkan pencipta metadata dan pengguna di luar sektor perpustakaan. RDA akan mendukung integrasi cantuman katalog perpustakaan dengan metadata yang dihasilkan oleh masayarakat lainnya.
RDA dikembangkan oleh IFLA atas dasar :
a. The International Cataloguing Principles
b. Functional Requirements for Bibliographic Record
c. Functional Requirements for Authority Data
d. For Bibliographic DescriptionInternational Standart
RDA dalam penyusunanya telah melibatkan kelompok didalam maupun diluar komunitas perpustakaan, selain kelompok kerja FRBR dan FRAD juga menjalin kerjasama dengan :
a. Dublin Core, untuk membandingkan model konseptual dan standar yang digunakan oleh masing-masing
b. Jaringan pengembangan standar MARC Library of Congress, untuk memastikan RDA kompatibilitas dengan MARC 21
c. Seksi pengatalogan IFLA, dalam rangka menjamin harmonisasi dengan standar internasional
d. Komunitas terbitan, yang telah mengembangkan daftar istilah berbasis pada standar ONIX untuk digunakan baik dalam penerbitan dan perpustakaan masyarakat.
RDA dirilis tidak dalam bentuk atau format cetak seperti AACR tetapi sebagai web-based tools yang didesain untuk kebutuhan dunia digital dengan memiliki ciri khusus sebagai berikut :
(1) Disesuaikan dengan FRBR ( Functional Requirement for Bibliographic Record) dari IFLA dan model data baru yang relevan
(2) Petunjuk untuk pencatatan data akan disajikan terpisah dari petunjuk untuk tampilan data, supaya terjadi fleksibilitas yang lebih besar untuk cantuman yang digunakan di berbagai lingkungan online
(3) Tata letak dan format lebih ramah terhadap pengguna (user-friendly), dengan petunjuk yang ditulis dalam bahasa inggris yang sederhana, maksudnya tidak hanya dimengerti oleh pustakawan aja, melainkan dapat dengan mudah dipahami oleh orang diluar pustakawan.
a. Struktur RDA
Akan ada tiga bagian atau sections utama di RDA, ditambah beberapa lampiran (untuk penggunaan huruf kapital, singkatan, kata sandang, penyajian data deskriptif dan data pengendalian titik temu) , suatu daftar istilah, dan index. Ketiga bagian utama adalah:
• Part I – Resource Description (termasuk sasaran fungsional dan prinsip-prinsip deskripsi sumber informasi)
• Part II – Relationships atau hubungan (petunjuk umum tentang hubungan-hubungan, termasuk individu, keluarga, badan korporasi, yang punya relationship dengan sumber; sitasi untuk karya berhubungan, dan petunjuk khusus untuk beberapa jenis karya tertentu)
• Part III – Access Point Control (merumuskan titik akses atau titik temu dan mencatat data yang digunakan dalam pengendalian titik temu)
Seperti halnya AACR2 dan kode pengatalogan sebelumnya, RDA juga berisi pedoman dan petunjuk yang mengatur deskripsi sumber informasi, pemilihan dan bentuk titik temu. Juga akan ada keterangan tentang rujukan (references) dan hubungan antara satu cantuman dengan yang lainnya. Yang tidak akan ditemukan adalah petunjuk tentang tajuk subyek, klasifikasi atau nomor Cutter, content designation (penanda isi) yang digunakan dalam format-format seperti MARC 21 dan mark-up languages seperti XML.
Salah satu unsur penting RDA ialah bahwa RDA menetapkan suatu garis pemisah yang jelas antara perekaman data dan penyajian data. Fokus utama RDA ialah pada pedoman dan instruksi perekaman data untuk mencerminkan atribut dan hubungan antara entitas yang didefinisikan di FRBR (Functional Requirements for Bibliographic Record)
b. Susunan RDA
Unsur-unsur deskripsi diambil dari atribut-atribut dari entitas FRBR seperti work, expression, manifestation, dan item, dan akan disusun menurut user tasks. Draft yang paling mutakhir punya susunan sebagai berikut:
• Introduction
• General guidelines for resource description
• Identification of the resource
• Technical description
• Content description
• Information on terms of availability
• Item specific information
Pungtuasi ISBD tidak akan menjadi wajib lagi seperti halnya dengan AACR2, tetapi menjadi pilihan dengan petunjuk aplikasinya di salah satu lampiran RDA.

c. FRBR dan hubungannya dengan RDA
FRBR adalah akronim Functional Requirements for Bibliographic Records. FRBR dikembangkan oleh suatu Study Group IFLA (192-1997), dan IFLA masih tetap memonitor aplikasi FRBR dan mempromosikan penggunaannya.
FRBR mencakup suatu model konseptual yang terdiri atas entitas, hubungan, dan atribut-atribut, dan mengidentifikasi sasaran spesifik yang harus terpenuhi oleh cantuman bibliografi agar bermanfaat pengguna, yaitu: menemukan, mengidentifikasi, menyeleksi, mendapatkan.
Keempat kegiatan ini dalam terminologi FRBR disebut “user tasks”. FRBR merekomendasikan sekelompok unsur yang harus ada dalam cantuman bibliografi nasional.
FRBR merupakan bagian dari landasan konseptual RDA. RDA akan:
• menggunakan terminologi FRBR apabila sesuai (misalnya menggunakan nama satuan bibliografi seperti “work”, “expression”, “manifestation”, dan “item”)
• menggunakan atribut FRBR sebagai dasar untuk unsur data tertentu dari deskripsi bibliografi
• membahas hubungan-hubungan (relationships) FRBR di Part II dari RDA
• menggunakan user tasks sebagai dasar untuk menetapkan sekelompok unsur wajib

d. Keuntungan menggunakan RDA
RDA membawa perpustakaan maju menuju era digitalisasi dengan menyediakan instruksi untuk pengatalogan bahan digital dan non digital, yang semuanya didasarkan pada AACR2 yang fokus pada kebutuhan pengguna agar mudah mencari, mengidentifikasi, memilih dan menemukan informasi yang mereka butuhkan. Ada beberapa keuntungan dalam menggunakann RDA antara lain :
(1). RDA adalah sebuah standar pengatalogan baru untuk mendeskripsikan sumber daya dan akses informasi yang dirancang untuk dunia digital.
(2). RDA berfokus pada deskripsi sumber daya informasi, bukan untuk bagaimana menampilkan informasi. Pengguna dapat menggunakan konten RDA dengan berbagai skema pengkodean, misalnya MODS ( Metadata Object Descriptions Standard), MARC 21 atau Dublin Core.
(3). RDA bersifat adaptif dan fleksibel, sehingga memungkinkan digunakan oleh masyarakat informasi lainnya diluar perpustakaan.
(4). Ketentuan RDA dapat disesuaikan, sehingga dapat digunakan untuk mengatalog jenis bahan perpustakan yang spesifik.
(5), RDA meningkatkan efisiensi pengatalogan bahan format khusus melalui online tools dapat ditemukan semua aturan yang diperlukan sesuai dengan jenis bahan apa yang akan dikatalog.
(6). RDA memungkinkan pengguna untuk menambahkan sendiri cantuman online. Demikian pula aturan interprestasi dan kebijakan kelembagaan atau jaringan dapat terintegrasi dengan RDA-online.

e. Perubahan AACR ke RDA
Kalau dikaji lebih lanjut akan ditemukan beberapa perubahan yang signifikan pada RDA bila dibanding dengan pendahulunya ACCR2 yang antara lain :
(1). Perubahan istilah-istilah yang biasa digunakan dalam AACR, misalnya dalam AACR mendefinisikan “buku” sebagai objek fisik yang merupakan kumpulan kertas terjilid, maka pada RDA menyebutnya sebagai “item”. Ketika kita menyebut buku sebagai bahan publikasi yang memiliki ISBN, RDA menyebutnya sebagai “manifestation”. Ketika kita menemukan suatu buku yang merupakan penerjemahan dari karya seseorang, RDA menyebutnya sebagai “expression”. Dan ketika kita mengatakan buku sebagai konsep isi yang menjadi dasar bagi karya-karya lain dalam berbagai versi bahasa atau ide-ide seseorang dalam sebuah buku, RDA menyebutnya “work”
(2). RDA menghapus sistem kategorisasi istilah GMD (General Material Designatio) dan SMD (Specific Material Designation) yang ada dalam AACR, dengan menggatikan tiga elemen terpisah yaitu : media category, type of carrier, dan type of content.
(3). RDA mengutamakan penekanan pada relationships antara entitas kelompok FRBR yang terhubung dengan resources, hubungan antara masing-masing karya intelektual, hubungan antara sustu karya dan penciptanya dan hubungan antara person, families, dan corporate bodies.

3. Kesimpulan :

a. RDA merupakan sistem pengatalogan baru diera digitalisasi tidak dalam format tercetak seperti AACR, namun sistem pengatalogan berbasis web yang didesain untuk kebutuhan dunia digital.
b. Walaupun RDA mengalami perubahan yang signifikan, akan tetapi penyusunanya masih berdasarkan pada prinsip-prinsip AACR2 yang berfokus pada kebutuhan pengguna agar mudah mencari, mengidentifikasi, memilih dan menemukan kembali informasi yang dibutuhkan dan mendukung berbagai metadata yang berbeda dilayanan online.
c. Format RDA tetap menggunakan format MARC, namun tata letaknya lebih ramah terhadap pengguna (user friendly) dan disertai dengan petunjuk dalam bahasa inggris yang sederhana yang mudah dipahami oleh orang diluar perpustakaan.
d. Model konseptual FRBR, FRAD, FRSAR pada RDA lebih relevan di era informasi saat ini, model ini merupakan konsep atau metadata yang dikembangkan oleh IFLA, yang dapat membantu cataloguer dalam memahami domain yang digambarkan.

4. Daftar Bacaan

Eka Kurnia to ics-isis@yahoogroup.com ; dari Muhammad Irsyad Alfatih To : referensi-maya@yahoogroup.com.

http://www.rda-jsc.org/rda.html

Sahroni, 2010 : RDA : Standar pengatalogan Bahan Perpustakaan Abad 21. Posted on September 4th.

0 Comments:

Post a Comment