USER EDUCATION DAN LIBRARY INSTRUCTION DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 09.10Oleh
Sugeng Priyanto dan Haryani
(pustakawan UNDIP)
PENDAHULUAN
Kemampuan pemustaka dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Akan tetapi banyak pemustaka yang terlahir di perguruan tinggi tidak tahu bagaimana memanfaatkan perpustakaan. Oleh karena itu, perpustakaan diharapkan mampu untuk mendidik pemustakanya untuk tertib dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan semua koleksinya secara maksimal. Dengan demikian perpustakaan akan berfungsi secara optimal apabila pemustakanya dapat mengetahui dengan baik dan cepat dimana dan bagaimana cara menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan.
Pustakawan mengajarkan pemustaka bagaimana menggunakan perpustakaan meliputi koleksi, metode pencarian informasi yang disebut library instruction, bibliographic instruction hingga user instruction. Hal ini termasuk memberikan jawaban yang lengkap kepada pertanyaan pemustaka.
Dalam bahasa Inggris ada bermacam-macam istilah yang dipakai untuk pendidikan pemustaka diantaranya user education, library orientation, library instruction, bibliographic instruction, library use instruction, dan user guidance. User Education adalah istilah yang lebih luas yang digunakan daripada semua istilah lainnya.
Berikut ini beberapa pendapat mengenai definisi user education,
1. Hazel Mews
“ ….. instruction given to readers to help them make the best use of a library.”.
Pendidikan Pemustaka adalah instruksi yang diberikan kepada pemakai agar mereka dapat menggunakan perpustakaan dengan baik.
2. Renford and Hendrickson
“ …..encompass all activities designed to teach the user about library resources and research techniques”
Pendidikan pemustaka adalah cara suatu kegiatan pengajaran dengan menggunakan berbagai sumber perpustakaan dan cara-cara penelitian
3. Malley
"….a process whereby the library user is firstly made aware of the extend and number of the library s resources, of its services and of the information sources available to him or her, and secondly taught how to use these resources, servicces and sources".
Pendidikan pemustaka adalah suatu proses dimana pemustaka perpustakaan untuk pertama kali diberi pemahaman dan pengertian sumber-sumber perpustakaan, termasuk pelayanan dan sumber-sumber informasi yang saling terkait, bagaimana menggunakan sumber-sumber tersebut, bagaimana pelayanannya dan di mana sumbernya
4. ODLIS (Online Dictionary for Library and Information Science ) definisi user education (pendidikan pemustaka) adalah
“All the activities involved in teaching users how to make the best possible use of library resources, services, and facilities, including formal and informal instruction delivered by a librarian or other staff member one-on-one or in a group. Also includes online tutorials, audiovisual materials, and printed guides and pathfinders..”
Semua kegiatan yang terlibat dalam mengajar pengguna bagaimana memanfaatkan sebaik mungkin sumber daya perpustakaan, layanan, dan fasilitas, termasuk instruksi formal dan informal disampaikan oleh seorang pustakawan atau anggota staf lain satu-satu atau dalam kelompok. Juga termasuk tutorial online, bahan-bahan audiovisual, dan panduan tercetak dan pathfinders.
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi perlunya user education di perpustakaan perguruan tinggi, diantaranya adalah :
1. Sarana dan prasarana serta koleksi di perpustakaan merupakan suatu investasi yang sangat besar bagi perguruan tinggi, oleh karena itu perpustakaan harus digunakan dan dimanfaatkan semaksimal oleh pemustaka.
2. Pemustaka sebagian besar adalah mahasiswa yang ditekankan pada studi mandiri, sehingga diharapkan dengan library instruction, pemustaka mampu untuk lebih memahami dan menggunakan perpustakaan dengan berbagai fasilitas dan layanannya secara lebih efektif dan efisien.
3. Dengan adanya kegiatan pendidikan pemustaka maka perpustakaan harus mengatur dan membenahi dirinya agar dapat dipergunakan dengan mudah oleh Pemustakanya.
4. Dengan adanya kegiatan ini maka merupakan suatu kesempatan bagi pustakawan untuk meningkatkan diri bukan hanya sebagai petugas yang hanya melayani Pemustaka saja tetapi ikut serta menyumbangkan pikiran dan keahliannya dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.
5. Melalui pendidikan Pemustaka ini berarti perpustakaan telah dapat dan secara nyata memberikan sesuatu yang amat diperlukan oleh Pemustakanya.
Program pendidikan pemustaka perpustakaan (user education programme) bagi mahasiswa perguruan tinggi perlu mendapatkan perhatian. Berbagai alasan dikemukakan mengapa program tersebut perlu dilaksanakan oleh perpustakaan. Hal yang sering disoroti adalah
1. Kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan.
2. Selain itu perpustakaan diharapkan mampu berfungsi dalam mendidik mahasiswa untuk menjadi pemustaka yang tertib dan bertanggungjawab.
3. Di sisi lain perpustakaan senantiasa mengupayakan agar segala kekayaan dalam bentuk koleksi, baik tercetak maupun terekam, dengan segala fasilitas dan pelayanannya, dapat digunakan secara maksimal oleh pemustaka.
Tujuan utama diadakannya kegiatan pendidikan pemustaka perpustakaan adalah untuk memperkenalkan ke pemakai bahwa perpustakaan adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat koleksi dan sumber informasi lain.
Menurut Rahayuningsih (2005), ada bermacam-macam tujuan yang hendak dicapai, diantaranya adalah :
1. Agar pemakai menggunakan perpustakaan secara efektif dan efisien.
2. Agar pemakai dapat menggunakan sumber-sumber literatur dan dapat menemukan informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
3. Memberi pengertian kepada mahasiswa akan tersedianya informasi di perpustakaan dalam bentuk tercetak atau tidak.
4. Memperkenalkan kepada mahasiswa jenis-jenis koleksi dan ciri-cirinya.
5. Memberikan latihan atau petunjuk dalam menggunakan perpustakaan dan sumber-sumber informasi agar pemakai mampu meneliti suatu masalah, menemukan materi yang relevan , mempelajari dan memecahkan masalah.
6. Mengembangkan minat baca pemakainya
7. Memperpendek jarak antara pustakawan dengan pemustakanya
Dalam user education, Malley (1984) membagi ke dalam dua hal yaitu library orientation dan library instruction. Orientasi perpustakaan bertujuan untuk mengenalkan pemustaka tentang keberadaan perpustakaan dan layanan apa saja yang tersedia di perpustakaan juga memungkinkan pemustaka mempelajari secara umum bagaimana menggunakan perpustakaan, jam buka, letak koleksi tertentu dan cara meminjam koleksi perpustakaan.
Ratnaningsih (1994) memberikan tujuan orientasi perpustakaan yaitu :
1. Mengetahui fasilitas yang tersedia di perpustakaan
2. Mengetahui kewajiban yang harus dipenuhi
3. Mengetahui tata letak gedung, ruang koleksi serta layanan yang tersedia.
4. Mengerti tata cara menggunakan catalog, computer dan media teknologi lain.
5. Mampu memanfaatkan perpustakaan secara maksimal dengan efektif dan efisien.
6. Mampu menemukan koleksi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat.
7. Dapat menggunakan sumber-sumber penelusuran referensi, baik secara tradisional maupun media elektronik yang ada.
8. Termotivasi senang belajar di perpustakaan.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah melaksanakan program pendidikan pemustaka, di antaranya adalah Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, Universitas Atmajaya, Universitas Pelita Harapan, Universitas Sanata Dharma serta beberapa universitas lain.
Cara dan waktu pelaksanaan pendidikan pemustaka berbeda-beda, misalnya
1. Ada yang memasukkan program pada saat orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek),
2. Ada pula yang memasukkan dalam mata kuliah tertentu
Pendidikan pemustaka dimasukkan dalam mata kuliah kapita selekta dengan 2 SKS dan bersifat wajib. Sementara di Perpustakaan Universitas Pelita Harapan Tangerang, selain memasukkan program pendidikan pemustaka saat ospek, juga melayani permintaan jurusan dengan materi di kelas selama 2 jam.
3. Ada yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti progam sebagai syarat mendapatkan kartu anggota perpustakaan tetapi ada yang tidak mewajibkan mahasiswa baru dan hanya melayani mereka yang berminat.
Berbagai pendidikan pemustaka yang diterapkan dibeberapa perguruan tinggi belum mencapai hasil maksimal. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
1. Kurangnya tenaga pustakawan profesional,
2. kurangnya fasilitas perpustakaan,
3. Belum terjalinnya kerjasama di antara staf, pustakawan dan pemustaka, serta
4. Perencanaan program yang belum tepat.
Kadang-kadang pelaksanaan program tidak memperhatikan beberapa aspek seperti tujuan program, waktu pelaksanaan, rnateri yang akan disampaikan, siapa pelaksananya, serta metode yang akan digunakan. Sehingga terkesan hanya melaksanakan suatu program rutin, tanpa dipikirkan hasil yang akan dicapai.
Metode Pendidikan Pemustaka
Agar program pendidikan pemustaka perpustakaan dapat memperoleh hasil yang maksimal, perlu menentukan metode apa yang kira-kira sesuai dan efektif digunakan. Dalam memilih metode perlu pula dipertimbangkan medianya, karena masing-masing media mempunyai daya guna yang berbeda
Menurut Fjalbbrant dan Malley (Ratnaningsih, 1994) metode pengajaran yang cocok bagi program pendidikan pemustaka secara garis besar dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu
1. Metode yang sesuai pendidikan kelompok
2. Metode yang sesuai untuk pendidikan individu/perorangan
3. Metode yang dapat dipakai baik bagi pendidikan kelompok maupun perorangan
Metode yang dipilih dalam penyajian, masih pula harus mempertimbangkan subyek yang diajarkan, pemustaka yang mengikuti pendidikan dan pengajar atau pembimbingannya. Dalam pendidikan pemustaka dapat juga memilih beberapa metode antara lain :
a. Ceramah
b. Seminar/tutorial/demonstrasi
c. Wisata perpustakaan
d. Metode audio visual : Film, Video tape, Slide
e. Bentuk tercetak : Brosur, Leaflet
f. Latihan/Praktek
g. Program bimbingan kelompok
h. Program bimbingan khusus
I. Program bimbingan individu
Pelaksanaan Pendidikan Pemustaka
Mengenai kapan pendidikan pemustaka dapat dilaksanakan, tergantung kepada kedua pihak, yaitu antara pemustaka dan perpustakaan. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi melaksanakan program ini sebagai program wajib bagi setiap pemustaka perpustakaan, yang dilaksanakan secara kontinyu dan terjadwal.
Tempat pelaksanaan dapat di perpustakaan atau fakultas, disesuaikan dengan fasilitas yang ada. Tetapi nampaknya perpustakaan merupakan salah satu altematif terbaik sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan pemustaka, mengingat perpustakaan merupakan unsurpendukung terpen ting dalam penyelenggaraan program pendidikan pemustaka. Tentu saja perpustakaan harus menyelenggarakan kerja sama dengan fakultas agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik.
Pelaksanaan pendidikan pemustaka dapat dilakukan dengan tiga tingkatan antara lain:
a. Tingkatan orientasi
Orientasi ini biasanya dilakukan pada mahasiswa baru pada awal mengikuti kegiatan ospek. Kegiatan pendidikan pemustaka yang disatukan dalam ospek tersebut diberikan pada materi khusus yang diselenggarakan selama kurang lebih 2 jam. Dengan materi mengenai. pentingnya perpustakaan, jam buka perpustakaan. sarana temu kembali informasi, jasa perpustakaan.jenis koleksi yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dan peraturan perpustakaan. Metode pendidikan pemustaka yang dapat digunakan adalah ceramah dengan prinsip pengenalan. kunjungan perpustakaan dan demonstrasi atau peragaan. Pelaksanaan dalam pemberian pendidikan pemustaka pada tingkat ini adalah minimal pustakawan dengan kualifikasi setingkat sarjana muda ilmu perpustakaan.
b. Pendidikan pemustaka pada tingkatan tertentu.
Pendidikan pemustaka pada tingkatan tertentu ini, ada yang melalui jalur kurikulum, ada juga melalui bimbingan individu atau kelompok (non kurikulum). Pada jalur kurikulum ada yang dititipkan pada metodologi penelitian, ada yang masuk ajaran pengantar perpustakaan dan ada juga yang memasukkan kedalam ajaran penelusuran literatur. Dengan alokasi waktu selama satu semester dengan 2 SKS. Untukjalur non kurikulum (bimbingan individu/kelompok) pendidikan pemustaka dapat dilakukan oleh pustakawan dengan cara bimbingan langsung pada masing-masing pemustaka. Dapat juga dibuka kelas pada jumlah tertentu dan dilaksanakan pendidikan pemustaka Pembahasan di perpustakaan.
Materi pendidikan pemustaka pada tingkatan ini sarna dengan materi orientasi, namun ada penekanan dalam materi pemustakaan sarana temu kembali informasi (katalog, indeks, abstrak dan bibliografi) juga penelusuran informasi otomasi. Staf pelaksananya bisa pustakawan atau yang berkualifikasi sarjana muda bidang ilmu perpustakaan. Untuk materi praktek di perpustakaan bisa dibantu oleh asisten pustakawan. Metode yang cocok adalah ceramah, demonstrasi dan praktek/latihan.
c. Pendidikan pemustaka pada peserta Pascasarjana
Pendidikan pemustaka program pascasarjana ini biasanya peserta terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Karena para peserta selalu melakukan penelitian, mereka selalu membutuhkan referensi yang lengkap dan mutahir dari jurnal, bibliografi dan sumber informasi tentang penelitian lain. Mereka sering melakukan wawancara dan dialog dengan pustakawan yang kompeten untuk mendiskusikan penelusuran informasi yang kadang sangat spesifik. Untuk kebutuhan seperti ini diperlukan adanya pustakawan spesialis atau setidaknya pustakawan yang telah mendalami bidang layanan minat tersebut dengan cukup pengalaman, sehingga mudah untuk memahami terminologi khusus yang kadang diperlukan pemustaka.
Pada tingkat ini, pendidikan pemustaka dapat dilaksanakan setiap tahun atau 2 x setahun. Materi yang diberikan sarna dengan tingkat pendidikan pemustaka yang lain tetapi ada penekanan pada materi penelusuran baik manual maupun terotomasi juga pemakaian bibliografi hasil-hasil penelitian. Staf pelaksana setidaknya berkualifikasi setingkat S-1 dan S-2 ilmu perpustakaan. Untuk pelaksanaan praktek bisa dibantu asisten pustakawan. Metode pendidikan/penyampaian yang cocok untuk program tingkat ini adalah : dibagikan makalah, ceramah, praktek penelusuran, dan soal-soal latihan, misal dengan membuat panduan pustaka ("path finder")
d. Pendidikan pemustaka melalui homepage
Seiring dengan makin mudahnya akses internet maka banyak perpustakaan yang memiliki web site. Kegiatan pendidikan pemustaka akan lebih efisien dan efektif bila dilakukan melalui home page yang bisa diakses oleh pemustakanya. Fasilitas ini bisa diakses dimanapun dan kapanpun oleh pemustaka perpustakaan. Fasilitas homepage untuk pendidikan pemustaka telah dilakukan oleh perpustakaan di luar negeri misalnya di Perpustakaan Pusat University of The Ryukyus, Japan, dimana perpustakaan menyampaikan informasi kegiatannya yang dapat diakses pemustakanya dimanapun berada.
Informasi tersebut adalah :
1. Informasi kegiatan perpustakaan
2. Petunjuk menggunakan perpustakaan
3. OPAC, dan data base CD-ROM (searching)
4. Pengantar bahan – bahan local
5. Pameran
6. Bulletin perpustakaan
Keuntungan metode tersebut antara lain :
a. Cepat
b. Dapat setiap saat diperbaharui
c. Tidak perlu waktu khusus untuk menyampaikannya (bahkan bisa sepanjang tahun)
d. Bila dihitung secara keseluruhan akan lebih murah
Library Instruction
Pada saat ini, jumlah informasi yang dihasilkan dan yang dapat diakses terutama melalui internet tumbuh dengan pesat. Kemampuan untuk menggunakan berbagai macam bentuk informasi dengan efektif dan efisien sangatlah penting. Ketrampilan ini yaitu library literacy atau information literacy.
Library instruction merupakan komponen yang penting dalam pencarian informasi, mempromosikan pembelajaran seumur hidup dengan menyediakan bantuan yang tidak hanya untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, tetapi juga belajar untuk menemukan informasi apabila referensi bantuan tidak selalu tersedia.
Menurut ODLIS, library instruction memiliki definisi yang sama dengan bibliographic instruction yaitu
Instructional programs designed to teach library users how to locate the information they need quickly and effectively. BI usually covers the library's system of organizing materials, the structure of the literature of the field, research methodologies appropriate to the discipline, and specific resources and finding tools (catalogs, indexes and abstracting services, bibliographic databases, etc.).
Di perpustakaan akademik, LI biasanya berkaitan dengan kursus atau kursus-terintegrasi. Perpustakaan yang memiliki LI dengan laboratorium komputer dilengkapi sesi praktek penggunaan katalog online, database bibliografi, dan sumber daya Internet. Instruksi biasanya diajarkan oleh pustakawan layanan instruksional dengan pelatihan khusus dan pengalaman dalam metode pedagogis.
Library Instruction bertujuan agar para pemakai dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan tujuan tertentu dengan menggunakan semua sumber daya dan bahan yang tersedia di perpustakaan. Instruksi perpustakaan berkaitan dengan temu kembali informasi. Tujuan Library Instruction menurut Ratnaningsih (1994) adalah memberikan bimbingan bagi pemakai dengan tingkatan tertentu dengan tujuan sebagai berikut :
1. Mampu memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien
2. Mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dalam penemuan informasi yang mereka butuhkan
3. Mampu menelusur informasi melalui sarana-sarana penelusuran informasi yang ada
4. Memahami penelusuran bibliografi baik secara manual (catalog) maupun dengan media teknologi (computer, CD ROM dsb).
Jenis-jenis dari Library Instruction yaitu :
1. Point-of-Use Instruction
Beberapa penulis memberikan gambaran point-of-use instruction dengan informasi tercetak di perpustakaan yang memberikan penjelasan tentang alat dan koleksi referensi yang dipajang dimana alat dan koleksi tersebut diletakkan. Ketika pemustaka membutuhkan jawaban maka pustakawan memberikan gambaran yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka.
2. Formal Instruction
Formal instruction merupakan salah satu aspek dari user education. Macamnya yaitu :
• Tour dan orientasi Perpustakaan
• Presentasi di kelas
• Tutorial
PENUTUP
Kegiatan user education termasuk didalamnya library instruction merupakan kegiatan yang sangat penting bagi perpustakaan. Kesuksesan pemustaka dalam memanfaatkan seluruh fasilitas dan koleksi perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasinya akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pelaksanaan user education. Kesuksesan kegiatan ini akan memberikan dampak positif bagi ketrampilan literasi informasi pemustaka.
Seperti yang kita ketahui bahwa informasi memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan, maka pemustaka yang memiliki information literacy skill yang baik akan berhasil dalam setiap tahapan bidang kehidupan yang dilaluinya.
DAFTAR PUSTAKA
Asrukin, Mochammad. 1995 . Memahami kebutuhan pemakai perpustakaan. Bulletin Bina Pustaka No. 103/th.XVI
Evans, G. Edward. et. al. 1992. Introduction to public library services. Colorado : Libraries Unlimited.
Malley, Ian. 1984. The basics of information skills teaching. London: Clive Bingley
Rahayuningsih, F. 2005. Mengkaji pentingnya pendidikan pemustaka. Info Persadha Vol. 3/No.2/Agustus 2005.
Soerono. 1996. Pendidikan pemustaka pada perpustakaan perguruan tinggi.Media Pustakawan Volume III No. 4 Desember 1996.
Sulistyo-Basuki. 1992. Teknik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta : Gramedia.
University Ryukyu Library. 1999. User’s guide to the Library University Ryukyus.
http://lu.com/odlis/ diakses pada tanggal 14 januari 2011 pukul 17.00
PEMBERDAYAAN PELAYANAN INFORMASI PERPUSTAKAAN : SUATU PENDEKATAN BAURAN PEMASARAN
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 07.35oleh :
Djoko Prasetyo (pustakawan UNSOED)
R.M. Endhar Priyo Utomo (pustakawan MM UNDIP)
Pendahuluan
Ada perbedaaan yang mendasar antara perusahaan sebagai organisasi yang berorientasi bisnis dan perpustakaan sebagai organisasi nirlaba. Organisasi perusahaan memperoleh dana pertama dari pemodal, disamping dari modal sendiri. Jika perusahaan telah berjalan, dana berikutnya diperoleh dari hasil operasinya yang sangat ditentukan oleh konsumen. Bila barang dan jasa yang dihasilkan mampu memuaskan, maka operasi dan kegiatannya dapat berjalan lancar dan perusahaan dapat melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan perpustakaan sebagai organisasi nirlaba memperoleh dana dari lembaga induknya serta donor dan sumbangan lain yang jumlahnya tidak dapat ditentukan.
Pada hakekatnya perpustakaan akan saling bersaing dalam mendapatkan dana dalam sebuah lembaga dimana perpustakaan berada maupun dari donor. Kriteria untuk memperolehnya adalah seberapa besar kebutuhan masyarakat terhadap jasa yang diberikan oleh perpustakaan. Bagi perpustakaan yang tidak dapat membuktikan hal tersebut artinya tidak memiliki hak hidup, maka tidak pula memiliki hak untuk memperoleh dana. Oleh karena itu perpustakaan harus dapat membuktikan perannya, sehingga mempunyai hak untuk melanjutkan eksistensinya dan meraih dana yang cukup. Dalam hal tersebut menjadi sangat penting perpustakaan memberdayakan sumberdaya yang dimiliki agar perpustakaan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan pemasaran.
Pemasaran
Penerapan pemasaran pada organisasi nirlaba idenya dilahirkan dalam sebuah seri artikel oleh Kotler dan Levy, Kotler dan Zaltman, dan Shapiro antara tahun 1969 hingga 1973. Artikel-artikel tersebut menyatakan bahwa
“Pemasaran adalah kegiatan yang pervasive yang lebih dari sekedar menjual pasta gigi, sabun dan baja. Pemilu mengingatkan kita bahwa kadindat dipasarkan seperti sabun; seleksi mahasiswa mengingatkan kita bahwa pendidikan tinggi dipasarkan dan mencari dana mengingatkan kita bahwa “sebab” dapat dipasarkan…..Meskipun belum ada upaya yang meneliti apakah prinsip pemasaran yang baik dalam produk tradisional dapat dialihkan untuk pemasaran jasa, orang dan ide.”
Setelah kehadiran ide tersebut di atas, banyak para sarjana dan profesi pemasaran saling bermunculan untuk menunnjukkan prinsip-prinsip pemasaran yang sesungguhnya mempunyai nilai-nilai produktif yang dapat diperluas dan diterapkan pada situasi dan organisasi yang berbeda.
Dalam perkembangannya ide penerapan pemasaran dapat diterima karena didorong oleh menariknya jandi yang diberikan oleh pemasaran. Kemudian para praktisi pelayanan kesehatan, pendidikan, kesenian, berebut untuk menjangkau ilmu baru tersebut dan menggali kemungkinan-kemungkinannya. Langkah tersebut segera diikuti oleh ahli-ahli perpustakaan, ahli-ahli rekreasi, politikus dan pimpinan organisasi pelayanan lembaga social lainnya.
Bauran Pemasaran
Bauran adalah seperangkat unsur pemasaran yang dapat dikendalikan oleh organisasi. Fungsinya adalah untuk mempengaruhi tanggapan konsumen terhadap produk atau jasa yang dihasilkan oleh organisasi dan dikontrol dengan melihat kebutuhan secara individual dan kolektif agar tujuan pemasaran dapat berhasil. Hal ini dilakukan dengan kerangka kerja untuk mempertimbangkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi penggunaan layanan suatu organisasi.
Pada tahun 1990an Kotler memperkenalkan konsep baru dari sebuah paradigma pengguna, yaitu paradigma 4C (yang merupakan buyer paradign) yang menggantikan paradigma 4P yang secara umum sebagai paradigma pemasar (seller’s paradigm). Hal tersebut dikatakan akan bermanfaat bagi pustakawan dan profesi informasi. Perubahan strategi dan pendekatan 4C yang disampaikan oleh Kotler menjadi sebuah bauran yang lebih mudah diterima oleh kalangan pustakwan dan professional informasi.
Perubahan dari paradigma 4P menjadi 4C, adalah sebagai berikut :
1. Product menjadi value to Client or User, Costumer value.
2. Price menjadi Cost to the costumer and includes time and energi cost.
3. Place menjadi Convinience.
4. Promotion menjadi Communication.
Pemberdayaan Pelayanan Informasi Melalui Penerapan Bauran Pemasaran di Perpustakaan
Sebagaimana telah diungkapkan di atas, meskipun dapat dikatakan sebagai organisasi nirlaba, sebagai sebuah organisasi yang memberikan pelayanan kepada pemustaka, perpustakaan tetaplah dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pemustaka. Sebuah pelayanan di perpustakaan dapat dinilai baik, apabila pelayanan tersebut dapat memberikan nilai kepuasan bagi pemustaka.
Sebagai sesuatu yang terkadang tidak disadari oleh para pengelola perpustakaan, perpustakaan dapat dikatakan sebagai “perusahaan” yang secara tidak langsung “menjual” jasanya kepada pemustaka. Sebagai sebuah “perusahaan” yang menjual jasa kepada pemustaka, perpustakaan dituntut untuk dapat memberikan kepuasan kepada konsumennya yang dalam hal ini adalah pemustaka.
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka. Salah satu hal yang dapat diberikan oleh perpustakaan untuk dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka adalah dengan memberikan pelayanan yang baik kepada mereka. Adanya penerapan sebuah konsep layanan yang berorientasi kepada pemustaka sangatlah diperlukan.
Dalam dunia pemasaran dikenal sebuah konsep yang dikenal dengan bauran pemasaran dengan paradigma 4C, yaitu sebuah konsep pemasaran yang berorientasi kepada konsumen dalam menjual produknya. Apabila diterapkan di perpustakaan, produk yang dijual dalam hal ini adalah jasa yang diberikan oleh perpustakaan kepada pemustaka. Salah satu bentuk jasa dalam hal ini adalah pelayanan informasi yang diberikan perpustakaan kepada pemustaka.
Bauran pemasaran (marketing mix) juga dikenal sebagai kelompok kiat pemasaran yang digunakan oleh perusahaan untuk mencapai target market. Fungsinya adalah untuk mempengaruhi tanggapan konsumen terhadap produk atau jasa yang dihasilkan oleh organisasinya. Konsep bauran pemasaran tidak mutlak milik perusahaan atau organisasi bisnis, tetapi juga dapat diterapkan pada perpustakaan.
Dalam proses pemasaran, akan menyentuh elemen-elemen pemasaran dari hari ke hari, misalnya interaksi antara pustakawan dengan dengan pemustaka, termasuk disini adanya penyediaan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan pemustaka. Ada beberapa kegiatan perpustakaan yang secara eksplisit terkait dengan proses pemasaran misalnya survey perilaku pemustaka dan lainya.
Bauran pemasaran (marketing mix) dengan paradigma 4C yang terdiri dari costumer value, cost to the costumer, convenience dan communication. Konsep tersebut saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan yang maksimal.
Berikut ini diuraikan bauran pemasaran 4C dalam perpustakaan sebagai berikut :
1. Costumer value
Pemustaka akan menilai kebutuhannya dapat terpenuhi atau tidak di perpustakaan, dengan demikian costumer need and want pemustaka merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan sebuah produk atau jasa di perpustakaan. Suatu perpustakaan harus menetapkan sistem-sistem yang akan membantu peluncuran produk-produk baru yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pemustaka. Misalnya pengadaan pelayanan sore sampai dengan malam hari, seharusnya benar-benar merupakan keinginan dan kebutuhan dari pemustaka. Dalam hal tersebut penilaian pemustaka merupakan pandangan yang menguntungkan dan merupakan salah satu kunci dalam pemasaran perpustakaan. Perpustakaan harus dapat memenuhi kebutuhan kognitif dari para pemustaka, hal ini berkaitan erat dengan dengan kebutuhan untuk memperkuat informasi, pengetahuan, dan pemahaman seseorang terhdap lingkungannya.
Kebutuhan tersebut di atas harus menjadi perhatian pihak perpustakaan, karena menyangkut pada hasrat atau keinginan seseorang untuk memahami dan menguasi lingkungannya. Selain itu, kebutuhan tersebut juga dapat memberikan kepuasan atas hasrat keingintahuan dan penyelidikan seseorang.
Dalam penerapan konsep ini, haruslah ada sesuatu hal yang dapat memberikan nilai lebih bagi pemustaka pada saat memanfaatkan layanan di perpustakaan. Pemustaka sebagai customer perpustakaan semestinya mendapatkan nilai yang lebih ketika mereka mencukupi kebutuhan informasinya di perpustakaan, seperti jam layanan yang lebih panjang ketika perpustakaan membuka layanan sore hari. Dengan adanya nilai lebih yang diberikan oleh perpustakaan diharapkan akan berdampak pada meningkatnya tingkat kepuasan pemustaka ketika memanfaatkan layanan di perpustakaan
2. Cost to the Costumer
Sudut pandang tentang kegiatan pemasaran di perpustakaan adalah bahwa kegiatan tersebut dimulai dengan pemustaka dan persepsinya tentang biaya dan keuntungan yang diperoleh dari perilaku yang diinginkan perpustakaan. Pemustaka menyeimbangkan perolehan keuntungan dari tindakan yang dilakukan dengan biaya yang dikeluarkan. Pembayaran dengan sejumlah uang hanyalah salah satu bentuk dari pengorbanan atau harga dalam makna ekonomi tradisional.
Harga akan selalu berhubungan dengan biaya pelanggan yang akan ditentukan, oleh sebab itu, perpustakaan harus mempertimbangkan keseimbangan informasi yang diberikan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemustaka. Dalam menentukan harga informasi haruslah selalu berdasar pada analisis kemampuan dan kelemahan pemustaka dalam segi ekonomi, dan sosial budaya terutama minat baca masyarakat berimbang dengan perpustakaan sebagai lembaga pemberi jasa. Bila tidak terpenuhi, perpustakaan sebagai lembaga informasi bisa ditinggalkan oleh pemustakanya.
Dalam penerapan konsep ini, perpustakaan sebagai penyedia jasa layanan haruslah dapat secara cermat menghitung besaran biaya yang dapat dikenakan kepada pemustaka ketika mereka memanfaatkan jasa layanan di perpustakaan.
Contoh penerapan dari konsep ini adalah jasa layanan pinjam antar perpustakaan. Dengan adanya jasa tersebut dapat lebih menghemat waktu dan biaya yang harus dikeluarkan
Dari uraian di atas jelas bahwa perpustakaan harus dapat memberdayakan sumber-sumber informasi baik yang ada didalam maupun di luar perpustakaan, dengan demikian diharapkan perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan pemustaka sesuai dengan keinginannya.
3. Convenience
Untuk membuat suatu pertukaran, para pemasar harus mampu membuat kontak langsung maupun tidak langsung dengan konsumen sasaran. Untuk masalah produk, hal berarti bahwa barang-barang tersebut harus disampaikan dan didekatkan secara fisik. Untuk pelayanan, berarti membuat pelayanan tersebut tersedia di saat dan di tempat konsumen menggunakannya.
Dalam kasus pemasaran informasi di perpustakaan, dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Lokasi gedung yang strategis
Gedung perpustakaan hendaknya berlokasi di tengah-tengah lingkungan masyarakat agar mudah diakses.
b. Penempatan Perabotan dan fasilitas
Perabotan dan fasilitas perpustakaan hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga dapat memperlancar aktivitas yang ada di perpustakaan.
c. Penempatan bahan perpustakaan/sumber informasi
Penyusunan dan penempatan bahan perpustakaan di rak diatur secara sistematis dengan menggunakan standar yang ada. Dengan penataan yang sistematis akan mempermudah dalam penempatan dan penembuan kembali informsi/sumber informasi.
Dalam penerapan konsep ini, perpustakaan juga harus dapat melihat dalam kacamata pemustaka sebagai customernya. Perpustakaan harus dapat melihat kemampuan pemustaka untuk dapat mengakses sumber-sumber informasi yang ada. Sebagai sebuah “perusahaan” yang berorientasi kepada kepuasan “customer”, perpustakaan haruslah dapat lebih mendekatkan diri kepada pemustaka dalam hal akses sumber-sumber informasi yang dimilikinya. Adanya kemudahan untuk dapat mengakses sumber-sumber informasi yang ada, secara tidak langsung akan dapat meningkatkan tingkat kepuasan pemustaka sebagai customer dari perpustakaan.
4. Communication
Komunikasi bukanlah suatu yang dapat diabaikan oleh organisasi nirlaba, segala hal tentang organisasi, produk, staf, fasilitas, dan tindakkan mengkomunikasikan sesuatu. Setiap organisasi seharusnya memeriksa gaya, kebutuhan dan kesempatan komunikasinya serta mengembangka sutau program komunikasi yang dapat berpengaruh secara positif dari segi biaya.
Tanggung jawab komunikasi suatu organisasi mempunyai sasaran yang luas, namun komunikasi dalamkonteks pemasaran lebih ditekankan pada aspek promosi, bagaimana agar jasa dan layanan perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pemustaka.
Termasuk bentuk komunikasi dalam kaitannya dengan kegiatan promosi adalah penampilan fisik, kecepatan proses dan penampilan/performans dari staf perpustakaan, seperti berikut :
a. Penampilan fisik
Walaupun perkembangan teknologi informasi dan komunkasi sudah demikian pesat, tapi proses “konsumsi” jasa perpustakaan hingga saat ini masih berlangsung di gedung perpustakaan. Oleh karena itu untuk menciptakan rasa nyaman bagi pemustaka. Perlu sekali diciptakan ruangan yang bersih, ditata dengan rapi, serasi dan menarik. Tersedianya fasilitas gedung yang terawat dan terjaga dengan baik seperti penerangan, serta fasilitas umum seperti mushola, toilet. Penataan ruang yang baik menuntut perhatian yang terus menerus.
b. Kecepatan proses
Perpustakaan sebagai penghasil jasa informasi, memiliki ciri yang khas yang berbeda dari organisasi penghasil barang. Pada organisasi penghasil barang, proses berbeda jauh dari konsumen karena dilakukan di dalam pabrik. Konsumen menerima hasil akhir lewat distributor-distributor.
Pada organisasi penghasil jasa seperti perpustakaan proses produksi dan konsumsi jatuh pada saat yang sama. Pustakawan perlu memahami dengan benar bahwa justru proses produksi itulah yang dijual. Keseluruhan sistem berlangsung seperti kebijakan, prosedur, aliran informasi, keterlibatan pemustaka dalam penyelenggaraan jasa, akan sangat berpengaruh terhadap kesan yang diperoleh pemustaka. Oleh sebab itu kelancaran dalam keseluruhan proses harus terus menerus disempurnakan.
c. Kinerja pustakawan
Pihak yang mengerjakan proses dan menghasilkan jasa layanan adalah pustakawan yang secara langsung berhadapan dengan pemustaka. Sehingga dikatakan bahwa variable inilah yang terpenting. Para pustakwan harus berperilaku professional. Perilaku professional dapat terwujud, jika mereka memiliki keahlian/keterampilan pemasaran, komunikasi dan lain-lainnya serta memiliki jiwa seni (art), semangat melayani yang konsisten atau berdedikasi dan berwawasan maju.
Konsep ini adalah bagian terpenting dalam penerapannya di perpustakaan. Komunikasi menjadi bagian terpenting ketika perpustakaan memberikan pelayanan kepada pemustaka. Adanya komunikasi yang baik ketika memberikan pelayanan kepada pemustaka menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah layanan di perpustakaan. Dalam penerapan konsep ini, pustakawan menjadi kunci pokok berhasil atau tidaknya komunikasi yang dibangun oleh perpustakaan dengan pemustaka.
Penutup
Dari uraian-uraian yang telah disampaikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk dapat memberikan layanan pemustaka yang baik, diperlukan sebuah konsep bauran pemasaran dengan penerapan paradigma 4C. Konsep ini memungkinkan terciptanya sebuah perpustakaan yang berorientasi kepada pemustaka.
Daftar Pustaka
Corrall, Sheila, Breverton, Antony. The New Professional’s Handbook : your guide to information services management. London : Library Association Publishing, 1999.
Kotler, Philip, Andreasen, Alan R. Strategi Pemasaran untuk Organisasi Nirlaba. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1995.
Saez, Eileen E. de. Marketing Concepts for Libraries and Information Service. Library Association, 1993.
Yusup, Pawit M. Ilmu Informasi, Komunkasi dan Kepustakaan. Jakarta : Bumi Aksara, 2009; 338.
PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PROSES ORGANISASI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 10.24oleh
Itmanudin , SS
(pustakawan STAIN Salatiga)
A. Pendahuluan
Dalam dua dasa warsa terakhir, teknologi berkembang begitu cepat. Banyak aspek kehidupan akhirnya berubah, termasuk perubahan perilaku masyarakat karena adanya teknologi informasi, dimulai dengan penemuan komputer pribadi di era tahun 1980an dan mulai banyak digunakan pada dasa warsa terakhir abad 20 benar-benar telah menjadi pola kerja, pola kehidupan dan berbagai aspek lain seperti penyimpanan data, penyediaan data serta penyajian data. Hal ini harus disadari oleh pustakawan untuk mengadaptasi perubahan ini.
Dalam prakteknya teknologi informasi sangat membantu semua aspek pekerjaan pustakawan di perpustakaan. Dari mulai kegiatan pengadaan bahan pustaka, pengolahan, sirkulasi, sistem temu balik informasi dan lain sebagainya. Kegiatan ini dikenal dalam perpustakaan sebagai kegiatan organisasi informasi.
Menurut Yuyu Yulia (2008:1.2) Organisasi informasi merupakan pelbagai kegiatan yang bertujuan supaya setiap bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan dapat :
1. Diketahui tempat fisiknya melalui nomor panggil
Disini peran katalog sebagai wakil dokumen dibutuhkan oleh pengunjung perpustakaan untuk mengetahui keberadaan sebuah koleksi dan juga temu kembali informasi.
2. Dikenali melalui sajian ringkas dari bahan pustaka yang disebut dengan cantuman bibliografis.
Disini peran cantuman yang ditempelkan pada dokumen fisik buku yang berada dijajaran rak atau disajikan di rak berperan sekali dalam menemukan kembali informasi yang diinginkan
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa teknologi informasi sangat diperlukan untuk mempercepat proses pengolahan informasi dan juga temu kembali informasi untuk memudahkan petugas dan pengunjung perpustakaan, baik ketika menjajarkan koleksi di rak maupun pada saat temu kembali informasi.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sejauhmana peranan teknologi informasi dalam kegiatan organisasi informasi di perpustakaan.
Hal ini sangat berguna dalam pengembangan kegiatan organisasi informasi, karena hasil dari kegiatan ini sangat diperlukan oleh pengunjung perpustakaan dan juga petugas perpustakaan dalam temu kembali informasi.
C. Kerangka dasar sistem informasi
Untuk memulai penulisan makalah ini, penulis ingin menyampaikan kerangka dasar sistem informasi sebagai acuan dasar sistem informasi.
Perpustakaan merupakan sumber informasi atau gudang pengetahuan, untuk itu perpustakaan dapat dikatakan sebagai suatu sistem informasi dalam konsep yang mendasar. Kerangka dasar sistem informasi, merupakan suatu rangkaian sistem informasi, tanpa memperhatikan tingkat mekanisme atau bentuk informasi fisik yang dikelola. Di samping itu konsep ini juga sekaligus menerangkan proses mengorganisasikan informasi dari mulai informasi itu diperoleh sampai pada informasi tersebut disajikan kepada pemustaka.
Diagram sistem informasi tersebut di atas merupakan modifikasi diagram the information work (Doyle, 1975:19). Kerangka dasar sistem ini memberikan garis besar sistem informasi sederhana, serta menunjukkan bagian utama yang sama pada lembaga simpan dan temu kembali informasi termasuk di dalamnya perpustakaan, kearsipan, pusat dokumentasi dan informasi lain
Dari kerangka dasar tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa untuk mempercepat pengideksan atau indexing dan juga temu kembali informasi, peran teknologi informasi dalam organisasi informasi tidak terelakkan lagi.
D. Peranan teknologi informasi dalam proses organisasi informasi di perpustakaan
Berpijak dari kerangka dasar sistem informasi tersebut diatas, penulis ingin menyampaikan bagaimana proses indexing atau pengindeksan yang merupakan kegiatan organisasi informasi dengan menggunakan teknologi informasi yang kemudian pengindeksan ini digunakan sebagai sistem temu kembali informasi dengan menggunakan teknologi informasi (katalog terpasang) atau opac (online public acces catalog)
1. Indexing
Indeks adalah sebuah daftar yang sistematis, mengandung istilah atau frasa (menyatakan pengarang, judul, konsep dan sebagainya) yang dilengkapi dengan penunjuk ke isi satu atau serangkaian dokumen, ke lokasi dimana istilah atau frasa tersebut dapat ditemukan. Indeks dan pengindeksan biasanya dikaitkan dengan pembuatan katalog dan klasifikasi (wiji Suwarno, 2010:97)
Menurut pendit (2008), pengindeksan berbeda dengan katalogisasi dan klasifikasi yang lebih berkonsentrasi pada “tentang apa”nya (subjek) suatu dokumen. Maka pengindeksan lebih terkonsentrasi pada ekstraksi atau pengambilan kata atau istilah yang adan didalam dokumen dihalaman tertentu, lalu menempatkannya dalam daftar indeks secara terstruktur. Struktur inilah yang memungkinkan sebuah buku “merujuk” pembacanya ke bagian-bagian teks yang relevan untuk keperluannya.
Terkait dengan indeksing, peranan komputer sebagai bagian dari kemajuan teknologi informasi sangat diperlukan dalam hal indeksing atau pengindeksan. Dalam makalah ini penulis hanya akan menyampaikan indeksing dengan menggunakan teknologi komputer, dan tidak akan membahas pengindeksan secara manual.
Sewaktu belum ada komputer, pengideksan mutlak menjadi urusan manusia, tidak ada campur tangan mesin. ketika mesin komputer hadir, pengideksan dibagi menjadi dua cara : intelektual dan mekanikal
Intelektual artinya kegiatan menganalisis dan penerjemahan (translasi) dokumen yang akan di indeks, mencakup kegiatan mengidentifikasi dan memilih konsep-konsep penting yang tercakup dalam sebuah dokumen.
Mekanikal artinya kegiatan yang mencakup pengurutan menurut abjad dan pembuatan format entri indeks.
Jika komputer sudah bisa digunakan dengan baik untuk kegiatan intelektual ataupun mekanikal, itu artinya bahwa komputer sudah dapat melakukan pengindeksan secara otomatis, tetapi kalau hanya bisa digunakan untuk intelektualnya saja, maka disebut pengindeksan yang diotomasikan.
2. Temu kembali informasi
Dengan sistem indeksing menggunakan teknologi komputer, maka sistem temu kembali informasi menurut wiji suwarno (2010 : 99) dapat dilakukan komputer dengan beberapa cara :
a. Sequential
Proses pencarian atau pencocokan istilah dengan cara berurutan, misalnya mencari sebuah kata, maka komputer akan berjalan mengecek setiap istilah mulai dari istilah pertama daftar sampai bagian terakhir daftar yang masih sungsang atau acak.
b. Alphabetical Chain
Artinya mata rantai – alfabet, prinsipnya sama dengan cara menggunakan kamus mislanya, kita mencari arti kata programming di kamus inggris indonesia, tentu kita akan secara bodoh mencari dari mulai huruf A, kemudian loncat ke huruf P , bahkan juga terkadang kita langsung menuju kata-kata yang dimulai dengan “prog” dan melewatkan sebelumnya.
Keuntungan : lebih cepat dari cara sequential (berurutan)
Kelemahan : jika daftar indeks memiliki banyak kata yang serupa, maka terjadi Densely Populated Area (wilayah dalam daftar indeks yang padat berisi istilah serupa). Jika komputerr harus mencari wilayah ini maka programnya harus dibuat agar bisa bolak-balik diwilayah ini sampai semua kemungkinan telah dicoba.
c. Binary Search
Untuk mempercepat pencarian indeks, komputer perlu mengurangi langkah penelusuran, salah satu caranya adalah dengan binary search yaitu membagi 2 daftar setiap kali melakukan pencarian dan mencari disetengah daftar dan proses pembagian ini dapat berlangsung berkali-kali.
Problem : keharusan pembuatan program yang dapat melakukan penghitungan mathematic untuk menentuka titik tengah dari sebuah daftar. Penghitungan ini dilakukan setiap kali komputer diperintah oleh pemakai untuk mencari istilah dalam daftar indeks dalam komputer.
d. Binary search tree
Sebuah cara komputer untuk menambah kecepatan dengan cara meniru tabiat pohon. Sebuah pohon memiliki cabang dan setiap cabang bercabang lagi, demikian seterusnya sampai ke puncak pohon dengan perhitungan matematis maka dapat dibuat sebauh berkas sungsang yang setiap istilah indeksnya mengandung nilai, sedemikian rupa sehingga selalu ada 2 cabang untuk setiap istilah, sebenarnya sama dengan membagi 2 seperti pada sistem binary search tetapi kali ini komputer tidak perlu lagi melakukan pembagian dan perhitungan titik dengan titik setiap kali melakukan pencarian.
e. Balance tree
Cara untuk mempercepat proses dengan cara setiap istilah indeks diberi nilai sedemikian rupa sehingga cabangnya tidak hanya 2 tetapi bisa berapa saja. Hal ini mempengaruhi tidak hanya kecepatan pencarian tetapi juga perngorganisasian berkas sungsang secara keseluruhan.
Pada dasarnnya komputer dapat melakukan dua hal yang juga dilakukan sebelum ada komputer yaitu derivative indexing dan assignment indexing. Adapun penjelasanya adalah sebagai berikut :
a) derivative indexing merupakan istilah indeks diambil langsung dari teks dokumen, disebut juga dengan synonim for keyword indexing karena indeks diambil langsung dari kata kunci dan tidak ada daftar kosa kata sebagai acuannya (atau dikalangan teknisi biasa disebut ‘tidak ada controlled vocabularya-nya, atau disebut juga free indexing
b) assignment indexing merupakan indeks yang diberikan dari luar. Istilah Ini berasal dari control vocabulary disebut dengan descriptor.
Semua lingkaran di atas, terjadi pada ingkungan digital yang berbentuk teks atau tulisan. Dalam jenis yang lain misalnya gambar atau audio, maka prinsip-prinsipnya mungkin sama
E. Simpulan
Dari penyampaian penulis di atas dapat diambil keseimpulan bahwa :
1. Dalam proses indexing yang mengahasilkan dua output yaitu jajaran koleksi di rak dan juga wakil dari dokumen atau katalog, yang keduanya berfungsi untuk temu kembali informasi telah digantikan fungsinya oleh komputer agar lebih cepat tepat dan efesien
2. Adapun standar yang digunakan dalam kegiatan pengkatalogan manual adalah AACR 1 dan standar yang digunakan dalam kegiatan pengkatalogan elektronis menngunakan AACR II
3. Pada dasarnya Komputer melaksanakan proses indeksing sama dengan indeksing yang dilakukan manusia, hanya saja ini dilakukan didalam komputer karena yang diindeks adalah data yang ada dalam komputer
Daftar Pustaka
Pendit, Putu Laxman. 2007. Perpustakaan Digital : perspektif perguruan tinggi indonesia. Jakarta : Sagung Seto
Suwarno, Wiji. 2010. Pengetahuan Dasar Kepustakaan : sisi penting perpustakaan dan pustakawan, Jakarta : Ghalia Indonesia
Yulia, Yuyu. 2007. Pengolahan bahan pustaka, Jakarta : Universitas terbuka
RDA (Resource Description and Access) Sistem Pengatalogan Era Digital
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 12.30Oleh.
Daryono, S.Sos
(pustakawan UNS Surakarta)
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dewasa ini menuntut terhadap Joint Steering Committee for Revision AACR2 dan Committee of Princilpes for AACR2 untuk melakukan pengembangan sistem pengatalogan sesuai dengan perkembangan yang ada. Dari tuntutan tersebut tepatnya pada bulan April 2005 JSCR dan CoP mengadakan pertemuan di hicago untuk membicakan cara terbaik untuk mengembangkan kode pengatalogan yang baru untuk menggantikan AACR2. AACR yang terbit pada tahun 1978 dan telah mengalami beberapa kali revisi yang sampai saat sekarang masih digunakan sebagai standar pengatalogan sebagian besar perpustakaan di dunia telah mengalami banyak kritik, karena AACR menjadi kode pengatogan yang terlalu komplek, terlalu kuno, karena berlandaskan konsep-konsep dari zaman katalog kartu, dan terlalu sulit untuk diterapkan untuk sumber-sumber digital yang baru.
Untuk memberikan respon atau umpan balik terhadap kritikan atau masukan dari kalangan perpustakaan atau lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam penyusunan peraturan pengatalogan, maka diputuskan bahwa diperlukannya kode baru untuk menggantikan AACR2 dengan pendekatan yang berbeda dari yang ada pada draft Part 1. Untuk menandai haluan baru tersebut sepakat untuk memberikan working title yaitu RDA ( Resource Description and Access). RDA ini akan menjadi standar baru untuk deskripsi sumber dan akses yang dirancang untuk kepentingan dunia digital, RDA akan menyajikan suatu kerangka yang fleksibel untuk menhadapi tantangan mendeskripsikan sumber-sumber digital, data yang lebih mudah disesuaikan dengan struktur pangkalan data yang lebih efisien dan kompatibel dengan cantuman yang telah ada dalam katalog perpustakaan online, karena landasn RDA ada di dalam prinsip-prinsip yang ada dalam AACR.
RDA dibangun atas landasan AACR dan akan merupakan suatu perangkat petunjuk dan instruksi untuk deskripsi (resource description) dan akses yang mencakup semua jenis isi dan media dan dirancang untuk dunia digital. RDA akan menjadi suatu kerangka yang lebih fleksibel untuk menhadapi tantangan mendeskripsikan sumber-sumber digital. Standar baru ini dikembangkan terutama untuk perpustakaan, namun JSC berkonsultasi dengan komunitas lain (arsip, musium, penerbit, pendidik, pedagang buku, vendor Integrated Library Systems) supaya RDA searah dengan standar metadata yang digunakan di komunitas tersebut.
Saat ini IFLA sedang merevisi Paris Principles tahun 1961, jadi RDA dan revisi berlangsung pada waktu yang sama. RDA dan revisi Paris Principles merupakan dua projek yang terpisah, namun apa yang sedang dikerjakan dilakukan dengan saling memperhatikan, sebab kedua projek masih terkait. Antara JSC dan IFLA memang terdapat hubungan kerjasama formal, yang diperkuat oleh struktur keanggotaan dalam kelompok kerja masing-masing. Misalnya: anggota JSC berpartisipasi dalam rangkaian pertemuan pertama para pakar pengatalogan dan masih tetap berpartisipasi dalam penyusunan Statement of International Cataloguing Principles.
2. RDA ( Resources Description and Access)
RDA ( Resources Description and Access) merupakan standar baru untuk mendeskripsikan sumber daya dan akses informasi yang dirancang di era digital dan berbasis web yang akan melibatkan pencipta metadata dan pengguna di luar sektor perpustakaan. RDA akan mendukung integrasi cantuman katalog perpustakaan dengan metadata yang dihasilkan oleh masayarakat lainnya.
RDA dikembangkan oleh IFLA atas dasar :
a. The International Cataloguing Principles
b. Functional Requirements for Bibliographic Record
c. Functional Requirements for Authority Data
d. For Bibliographic DescriptionInternational Standart
RDA dalam penyusunanya telah melibatkan kelompok didalam maupun diluar komunitas perpustakaan, selain kelompok kerja FRBR dan FRAD juga menjalin kerjasama dengan :
a. Dublin Core, untuk membandingkan model konseptual dan standar yang digunakan oleh masing-masing
b. Jaringan pengembangan standar MARC Library of Congress, untuk memastikan RDA kompatibilitas dengan MARC 21
c. Seksi pengatalogan IFLA, dalam rangka menjamin harmonisasi dengan standar internasional
d. Komunitas terbitan, yang telah mengembangkan daftar istilah berbasis pada standar ONIX untuk digunakan baik dalam penerbitan dan perpustakaan masyarakat.
RDA dirilis tidak dalam bentuk atau format cetak seperti AACR tetapi sebagai web-based tools yang didesain untuk kebutuhan dunia digital dengan memiliki ciri khusus sebagai berikut :
(1) Disesuaikan dengan FRBR ( Functional Requirement for Bibliographic Record) dari IFLA dan model data baru yang relevan
(2) Petunjuk untuk pencatatan data akan disajikan terpisah dari petunjuk untuk tampilan data, supaya terjadi fleksibilitas yang lebih besar untuk cantuman yang digunakan di berbagai lingkungan online
(3) Tata letak dan format lebih ramah terhadap pengguna (user-friendly), dengan petunjuk yang ditulis dalam bahasa inggris yang sederhana, maksudnya tidak hanya dimengerti oleh pustakawan aja, melainkan dapat dengan mudah dipahami oleh orang diluar pustakawan.
a. Struktur RDA
Akan ada tiga bagian atau sections utama di RDA, ditambah beberapa lampiran (untuk penggunaan huruf kapital, singkatan, kata sandang, penyajian data deskriptif dan data pengendalian titik temu) , suatu daftar istilah, dan index. Ketiga bagian utama adalah:
• Part I – Resource Description (termasuk sasaran fungsional dan prinsip-prinsip deskripsi sumber informasi)
• Part II – Relationships atau hubungan (petunjuk umum tentang hubungan-hubungan, termasuk individu, keluarga, badan korporasi, yang punya relationship dengan sumber; sitasi untuk karya berhubungan, dan petunjuk khusus untuk beberapa jenis karya tertentu)
• Part III – Access Point Control (merumuskan titik akses atau titik temu dan mencatat data yang digunakan dalam pengendalian titik temu)
Seperti halnya AACR2 dan kode pengatalogan sebelumnya, RDA juga berisi pedoman dan petunjuk yang mengatur deskripsi sumber informasi, pemilihan dan bentuk titik temu. Juga akan ada keterangan tentang rujukan (references) dan hubungan antara satu cantuman dengan yang lainnya. Yang tidak akan ditemukan adalah petunjuk tentang tajuk subyek, klasifikasi atau nomor Cutter, content designation (penanda isi) yang digunakan dalam format-format seperti MARC 21 dan mark-up languages seperti XML.
Salah satu unsur penting RDA ialah bahwa RDA menetapkan suatu garis pemisah yang jelas antara perekaman data dan penyajian data. Fokus utama RDA ialah pada pedoman dan instruksi perekaman data untuk mencerminkan atribut dan hubungan antara entitas yang didefinisikan di FRBR (Functional Requirements for Bibliographic Record)
b. Susunan RDA
Unsur-unsur deskripsi diambil dari atribut-atribut dari entitas FRBR seperti work, expression, manifestation, dan item, dan akan disusun menurut user tasks. Draft yang paling mutakhir punya susunan sebagai berikut:
• Introduction
• General guidelines for resource description
• Identification of the resource
• Technical description
• Content description
• Information on terms of availability
• Item specific information
Pungtuasi ISBD tidak akan menjadi wajib lagi seperti halnya dengan AACR2, tetapi menjadi pilihan dengan petunjuk aplikasinya di salah satu lampiran RDA.
c. FRBR dan hubungannya dengan RDA
FRBR adalah akronim Functional Requirements for Bibliographic Records. FRBR dikembangkan oleh suatu Study Group IFLA (192-1997), dan IFLA masih tetap memonitor aplikasi FRBR dan mempromosikan penggunaannya.
FRBR mencakup suatu model konseptual yang terdiri atas entitas, hubungan, dan atribut-atribut, dan mengidentifikasi sasaran spesifik yang harus terpenuhi oleh cantuman bibliografi agar bermanfaat pengguna, yaitu: menemukan, mengidentifikasi, menyeleksi, mendapatkan.
Keempat kegiatan ini dalam terminologi FRBR disebut “user tasks”. FRBR merekomendasikan sekelompok unsur yang harus ada dalam cantuman bibliografi nasional.
FRBR merupakan bagian dari landasan konseptual RDA. RDA akan:
• menggunakan terminologi FRBR apabila sesuai (misalnya menggunakan nama satuan bibliografi seperti “work”, “expression”, “manifestation”, dan “item”)
• menggunakan atribut FRBR sebagai dasar untuk unsur data tertentu dari deskripsi bibliografi
• membahas hubungan-hubungan (relationships) FRBR di Part II dari RDA
• menggunakan user tasks sebagai dasar untuk menetapkan sekelompok unsur wajib
d. Keuntungan menggunakan RDA
RDA membawa perpustakaan maju menuju era digitalisasi dengan menyediakan instruksi untuk pengatalogan bahan digital dan non digital, yang semuanya didasarkan pada AACR2 yang fokus pada kebutuhan pengguna agar mudah mencari, mengidentifikasi, memilih dan menemukan informasi yang mereka butuhkan. Ada beberapa keuntungan dalam menggunakann RDA antara lain :
(1). RDA adalah sebuah standar pengatalogan baru untuk mendeskripsikan sumber daya dan akses informasi yang dirancang untuk dunia digital.
(2). RDA berfokus pada deskripsi sumber daya informasi, bukan untuk bagaimana menampilkan informasi. Pengguna dapat menggunakan konten RDA dengan berbagai skema pengkodean, misalnya MODS ( Metadata Object Descriptions Standard), MARC 21 atau Dublin Core.
(3). RDA bersifat adaptif dan fleksibel, sehingga memungkinkan digunakan oleh masyarakat informasi lainnya diluar perpustakaan.
(4). Ketentuan RDA dapat disesuaikan, sehingga dapat digunakan untuk mengatalog jenis bahan perpustakan yang spesifik.
(5), RDA meningkatkan efisiensi pengatalogan bahan format khusus melalui online tools dapat ditemukan semua aturan yang diperlukan sesuai dengan jenis bahan apa yang akan dikatalog.
(6). RDA memungkinkan pengguna untuk menambahkan sendiri cantuman online. Demikian pula aturan interprestasi dan kebijakan kelembagaan atau jaringan dapat terintegrasi dengan RDA-online.
e. Perubahan AACR ke RDA
Kalau dikaji lebih lanjut akan ditemukan beberapa perubahan yang signifikan pada RDA bila dibanding dengan pendahulunya ACCR2 yang antara lain :
(1). Perubahan istilah-istilah yang biasa digunakan dalam AACR, misalnya dalam AACR mendefinisikan “buku” sebagai objek fisik yang merupakan kumpulan kertas terjilid, maka pada RDA menyebutnya sebagai “item”. Ketika kita menyebut buku sebagai bahan publikasi yang memiliki ISBN, RDA menyebutnya sebagai “manifestation”. Ketika kita menemukan suatu buku yang merupakan penerjemahan dari karya seseorang, RDA menyebutnya sebagai “expression”. Dan ketika kita mengatakan buku sebagai konsep isi yang menjadi dasar bagi karya-karya lain dalam berbagai versi bahasa atau ide-ide seseorang dalam sebuah buku, RDA menyebutnya “work”
(2). RDA menghapus sistem kategorisasi istilah GMD (General Material Designatio) dan SMD (Specific Material Designation) yang ada dalam AACR, dengan menggatikan tiga elemen terpisah yaitu : media category, type of carrier, dan type of content.
(3). RDA mengutamakan penekanan pada relationships antara entitas kelompok FRBR yang terhubung dengan resources, hubungan antara masing-masing karya intelektual, hubungan antara sustu karya dan penciptanya dan hubungan antara person, families, dan corporate bodies.
3. Kesimpulan :
a. RDA merupakan sistem pengatalogan baru diera digitalisasi tidak dalam format tercetak seperti AACR, namun sistem pengatalogan berbasis web yang didesain untuk kebutuhan dunia digital.
b. Walaupun RDA mengalami perubahan yang signifikan, akan tetapi penyusunanya masih berdasarkan pada prinsip-prinsip AACR2 yang berfokus pada kebutuhan pengguna agar mudah mencari, mengidentifikasi, memilih dan menemukan kembali informasi yang dibutuhkan dan mendukung berbagai metadata yang berbeda dilayanan online.
c. Format RDA tetap menggunakan format MARC, namun tata letaknya lebih ramah terhadap pengguna (user friendly) dan disertai dengan petunjuk dalam bahasa inggris yang sederhana yang mudah dipahami oleh orang diluar perpustakaan.
d. Model konseptual FRBR, FRAD, FRSAR pada RDA lebih relevan di era informasi saat ini, model ini merupakan konsep atau metadata yang dikembangkan oleh IFLA, yang dapat membantu cataloguer dalam memahami domain yang digambarkan.
4. Daftar Bacaan
Eka Kurnia to ics-isis@yahoogroup.com ; dari Muhammad Irsyad Alfatih To : referensi-maya@yahoogroup.com.
http://www.rda-jsc.org/rda.html
Sahroni, 2010 : RDA : Standar pengatalogan Bahan Perpustakaan Abad 21. Posted on September 4th.
Masa Depan Kataloger dan Katalogisasi di Perpustakaan
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 10.47oleh
Pramukti Narendra,SS
(pustakawan UPT Perpustakaan UNIKA SOEGIJAPRANATA Semarang)
A. Latar Belakang
Perpustakaan dewasa ini semakin hari semakin menarik untuk dibicarakan keberadaannya. Terlebih setelah muncul Undang undang nomor 43 tahun 2007 yang mengatur tentang perpustakaan, sehingga profesi pustakawan dan lembaga pepustakaan menjadi semakin jelas arah dan tujuannya sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang Undang. Sebuah perpustakaan yang dikelola secara sederhana, minimal terdiri atas dua pelayanan yang diberikan. Pelayanan itu adalah pelayanan teknis dan pelayanan pada pengguna perpustakaan.
Pelayanan pemustaka Dalam UU No 43 Tahun 2007 pasal 14 disebutkan bahwa:
(1) Layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka.
(2) Setiap perpustakaan menerapkan tata cara layanan perpustakaan berdasarkan standar nasional perpustakaan.
(3) Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
(4) Layanan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka.
(5) Layanan perpustakaan diselenggarakan sesuai dengan standar nasional perpustakaan untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pemustaka.
(6) Layanan perpustakaan terpadu diwujudkan melalui kerja sama antar perpustakaan.
Sedangkan untuk pelayanan teknis
Adapun pelayanan teknis meliputi kegiatan teknis perpustakaan antara lain kegiatan klasifikasi dan katalogisasi.
Menurut Sulistyo-Basuki, istilah klasifikasi berarti proses pengelompokan. Sedangkan klasifikasi di perpustakaan diberi definisi sebagai penyusunan sistematik terhadap buku dan bahan pustaka lain atau katalog atau entri indeks berdasarkan subjek, dalam cara paling berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi. (Sulistyo Basuki 1991, 395). Salah satu pedoman dalam penyusunan klasifikasi di perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification/DDC yang membagi ilmu pengetahuan dalam 10 kelas utama.
Selain klasifikasi, dikenal pula kegiatan katalogisasi di perpustakaan. Kegiatan katalogisasi berkaitan dengan kegiatan mencatat keterangan fisik sebuah koleksi. Deskripsi bibliografis merupakan istilah yang dikenal berkaitan dengan kegiatan katalogisasi. Adapun pedoman untuk kegiatan katalogisasi yaitu Anglo American Cataloguing Rules yang mengatur mengenai kegiatan deskripsi bibliografis. Hasil dari kegiatan katalogisasi adalah katalog yang pada umumnya telah kita ketahui bersama.
Katalog perpustakaan dalam format tercetak dengan ukuran 7,5 cm x 12 cm dewasa ini mengalami suatu tantangan mengenai keberadaanya di masa kini dan mendatang. Kehadiran OPAC (on line public access catalog) dengan memanfaatkan bantuan komputer saat ini sudah mulai menggeser keberadaan katalog fisik yang kurang menarik dari segeri penampilan dan penggunaannya. Pengguna perpustakaan kini semakin berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pengguna perpustakaan kini juga sudah familiar dengan pemanfaatan internet untuk melakukan pencarian informasi dan secara perlahan peranan dan fungsi perpustakaan sebagai penyedia informasi berkompetisi dengan internet.
Rumusan Masalah
Pada makalah ini penulis ingin merumuskan dua masalah pokok yang dikemukakan :
1. Bagaimanakah peran dan fungsi katalog tradisional masa kini dan yang akan datang ?
2. Bagaimanakah peranan kataloger dan katalog di era sumber daya informasi elektronik ?
Tujuan
1. Diharapkan dari makalah ini kita dapat mengetahui bagaimana keberadaan katalog di masa yang akan datang
2. dari makalah ini juga ingin penulis kemukakan tentang adakah bentuk kegiatan pengganti bagi pustakawan yang selama ini bergelut dengan kegiatan katalogisasi
Katalogisasi dan katalog perpustakan masa kini dan yang akan datang
Pertanyaan ini merupakan terjemahan lepas dari sebuah sub judul artikel presentasi dalam bahasa Inggris dengan judul Whiter Cataloging? Yang ditulis oleh Karen Coyle dalam situsnya http://managemetadata.com/
Menurut Sulistyo-Basuki (1993: 315) katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi. Di kalangan pustakawan Inggris dan Amerika dikenal beberapa peraturan pengkatalogan. Sebagai tindak lanjut kearah penyeragaman peraturan pengkatalogan pada tahun 1987 terbitlah AACR 2 (Anglo American Cataloguing Rules ) sebagai hasil kerjasama antara America Library Association (ASO), Library Association (Inggris), Library of Congress dan Canadian Library Association.
Adapun tujuan katalog menurut Sulistyo-Basuki (1993, 316) adalah:
1. Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan :
a. pengarangnya
b. judulnya
c. subjeknya
2. Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan
a. oleh pengarang tertentu
b. berdasarkan subjek tertentu
c. dalam jenis literatur tertentu
3. Membantu dalam pemilihan buku
a. berdasarkan edisinya
b. berdasarkan karakternya (sastra ataukah topik)
Katalog tercetak yang ada selama ini,adalah bentuk katalog standard yang didalamnya berisi informasi deskripsi bibliografis sebuah buku. Kartu katalog berukuran 7,5 x 12,5 cm .kartu ini kemudian dijajarkan dalam laci katalog sesuai dengan entrinya yaitu kartu katalog judul, kartu katalog pengarang, kartu katalog subyek.
Kartu katalog merupakan salah satu sarana temu balik informasi yang tersedia di perpustakaan. Di dalam kartu katalog terdapat informasi deskripsi bibliografis dari sebuah buku koleksi di perpustakaan.
Garis besar susunan deskripsi yang menjadi isi sebuahkatalog adalah sebagai berikut: (Sulistyo-Basuki 1993, 335)
1. Daerah Judul pengarang
2. daerah edisi
3. daerah keterangan penerbit
4. daerah keterangan fisik
5. daerah seri monografi
6. daerah catatan
7. daerah ISBN dan harga
Penggunaan katalog dewasa menurut penulis telah mengalami suatu pergeseran yang disebabkan pengaruh kemajuan teknologi informasi dengan kehadiran internet dan sumber daya digital yang ada di dalamnya.
Tentang masa depan katalog ada sebuah pendapat yang dikemukakan oleh Michael Gorman. menurut Gorman, masa depan katalog berhubungan dengan pentingnya menunjukkan struktur bibliografi untuk masa depan perpustakaan, bahwa perpustakaan adalah komponen penting dari pendidikan, pembelajaran dan literasi, masyarakat membutuhkan perpustakaan untuk belajar, warga negara yang terdidik untuk mengembangkan, berkembang, dan bertahan hidup.kami pustakawan memiliki sarana, pengalaman dan kemampuan untuk melestarikan pengetahuan dan informasi dengan dicatat dalam skala global untuk mewujudkan cita cita terbentuknya Universal Bibliographic Control dan memainkan peran penting kami dalam kemajuan kemanusiaan dan pengembangan perlindungan peradaban manusia. Khususnya untuk para kataloger, masa depan adalah tantangan dan cerah. Kita harus mempertahankan struktur bibliografi, bahwa kita telah membangun, memperluas dan mengembangkannya dalam dua cara. Yang pertama yaitu memastikan bahwa dokumen elektronik yang ada diatur dan disimpan sehingga dokumen itu tersedia bagi generasi mendatang. Kedua dengan peningkatan standar bibliografi di seluruh dunia dan memastikan bahwa seluruhnya mencapai level standard yang memungkinkan terciptanya suatu tingkatan kerjasama global. Beberapa berpendapat bahwa katalogisasi dan tenaga pengatalog akan dianggap usang— saya percaya pada kondisi sebaliknya yang benar—dan bahwa pengatalog akan punya peran yang makin penting dalam kegiatan perpustakaan dan masyarakat pada umumnya.
Lalu, apa yang harus kita tinggalkan ?
Bertolak dari pendapat diatas, bahwa salah satu tugas kataloger adalah pengelolaan dokumen elektronik yang dewasa ini tersedia dengan sangat melimpah ruah di internet, maka dapatlah dikatakan bahwa tugas kataloger masih dibutuhkan untuk mengelola berbagai dokumen baik tercetak maupun elektronik. Dokumen elektronik diperoleh dari berbagai pangkalan data elektronik yang tergabung dalam internet. Demikian pula perpustakaan masa kini juga mengikuti kemajuan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Pandangan sistem baru di Perpustakaan
Kepustakawanan memang lahir dan besar dalam lingkungan tradisi teks linear, terutama dalam bentuk buku, dengan semua ciri dan tata tertibnya. Sampai waktu yang sangat lama, buku adalah satu satunya koleksi perpustakaan besar di dunia. Semua sistem dan tata kerja perpustakaan didasarkan pada sifat buku dan perilaku pemakai buku (pembaca). Mulai dari ruang, sampai tata cara peminjaman, sampai ke sistem simpan dan temu kembalinya, semuanya berbasis buku. Akibatnya tidak jarang perpustakaan terjebak sendiri oleh kelambatan pengolahan koleksi dan kecanggungan sistem temu baliknya. Ketika proliferasi kegiatan ilmiah semakin spesifik dan ketika kecepatan permintaan informasi semakin meningkat, maka kepustakawanan harus mengubah orientasi agar mampu terus berfungsi di lingkungannya. Kepustakawanan khusus (special librarianship) merupakan salah satu solusi. Pada saat yang hampir bersamaan dengan kepopuleran kepustakawanan khusus, para teknolog menghadirkan komputer dan teknologi telekomunikasi baru. Seperti yang telah kita ketahui bersama, teknologi komputer pada dasarnya adalah teknologi pengolahan dan pengelolaan informasi – teknologi yang bekerja berdasarkan masukan informasi dan menghasilkan luaran berupa informasi pula. Penggunaan komputer untuk pengelolaan informasi segera menjadi solusi teknologi bagi upaya kepustakawanan dalam mengubah orientasinya. (Putu Laxman Pendit 2007, 4-5)
Dari mana pustakawan mengawali perpindahan orientasinya :
Menurut Karen Coyle dalam situsnya http://managemetadata.com/ perpustakaan masa kini sudah saatnya untuk berorientasi pada platform yang berbasis web. Hal ini karena memungkinkan dilakukannya :
1. eksplorasi berbagai sarana dan teknik untuk berbagi data bibliografi pada level jaringan
2. berkembangnya standar pelayanan perpustakaan yang cepat dalam format yang dapat dibaca oleh mesin khususnya yang dikembangkan di dalam web
3. Menyediakan akses yang standar melalui registrasi atau tersedianya web yang standar sehingga dapat diakses dan digunakan oleh seluruh aplikasi web.
Untuk itu maka dibutuhkan satu cara pandang baru yang dikembangkan dalam sebuah sistem di perpustakaan berhubungan dengan pengembangan sistem yang mampu saling terhubung khususnya dalam cantuman bibliografi. Selain itu juga mendorong peningkatan sistem perpustakaan yang menyediakan pula kemampuan untuk terhubung ke berbagai pangkalan data yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan (sebagai contoh amazon, wikipedia) dan dalam waktu yang sama mencari peluang untuk mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan dengan berbagai entitas komersial dan akan memperoleh manfaat dari berbagai upaya ini.
Lebih lanjut dikatakan bahwa data akan memperkaya sebuah perpustakaan, yaitu dengan mengembangkan suatu sistem perpustakaan yang dapat menerima berbagai masukan dari pengguna dan berbagai data non-perpustakaan tanpa mengganggu integritas data perpustakaan yang telah dibuat. Perlu mengenali pula pihak pihak yang memberikan kontribusi data kepada perpustakaan dengan tetap tidak melakukan tindakan yang melanggar keamanan data di perpustakaan. Mengembangkan metode untuk memandu pengguna melalui teknik penandaan yang menunjukkan pada kosakata entri.
Katalogisasi Masa Depan
Mengamati berbagai kemajuan di bidang sumberdaya digital dan melimpah ruahnya informasi yang berkembang di dalamnya. Kita berada di abad 21 dengan segala kemajuan yang telah kita alami khususnya di bidang teknologi informasi. Perpustakaan abad 21 juga mengalami banyak perubahan khususnya di bidang pengelolaan sumberdaya informasi yang beragam.
Maka jika pada era masa lalu pustakawan bergelut dengan tinta dan kertas, tugas pustakawan adalah membuat cantuman bibliografi untuk disusun dalam katalog lokal, sekarang tugasnya ialah membuat cantuman yang cocok untuk suatu katalog universal untuk sumber sumber berbasis web. (Putu Laxman Pendit 2007, 200) membicarakan sumber sumber berbasis web, maka tidak terlepas dari peran metadata. Nah apa metadata itu ?
Metadata adalah data tentang data (Putu Laxman Pendit: 2007, 200). Salah satu definisi metadata yang lebih rinci berbunyi metadata adalah data yang (1) terstruktur, (2) ditandai dengan kode agar dapat diproses oleh komputer, (3) mendeskripsikan ciri-ciri satuan satuan pembawa informasi dan (4) membantu identifikasi, penemuan, penilaian dan pengelolaan satuan pembawa informasi tersebut. Cantuman bibliografi berformat MARC adalah metadata.
Cantuman metadata yang lazim kita kenal yaitu Dublin Core yang mendeskripsikan metadata dalam
Katalogisasi masa depan lebih berkaitan erat dengan pengelolaan sumber informasi yang berasal dari bahan non buku. Sumber informasi dari bahan non buku sekarang ini banyak sekali menjejali perpustakaan. Ketika buku yang dicari tidak ditemukan, maka pengguna akan mencari alternatif sumber informasi lain yang bisa memenuhi kebutuhan informasinya.
Ketika sumber sumber informasi (information resources) yang tersimpan di perpustakaan dan lembaga serupa tidak lagi terbatas pda monograf, terbitan berseri, bahan audio visual dan format lain yang masih analog, “pra-komputer atau “nir-komputer” system-sistem dan praktek-praktek pengatalogan yang asal mulanya didesain dan dikembangkan untuk pengatalogan buku harus disesuaikan dengan drastis. Metadata diharapkan bisa menjadi salah satu sarana untuk menjinakkan pertumbuhan liar akibat ekposi, revolusi dan proliferasi ini. Pengatalogan tradisional tidak cukup. Pengatalogan tradisional menghasilkan data deskriptif yang masih tetap diperlukan, khususnya untuk proses resource discovery, namun pengatalogan ini tidak dapat menampung berbagai data lain yang amat penting (Putu Laxman Pendit: 2007, 205).
RDA Resource Description and Access
Kegiatan katalogisasi dewasa ini masih berpedoman pada pedoman yang kita kenal dengan nama AACR2 atau Anglo American Cataloguing Rules 2 yang merupakan pedoman bagi kataloger dalam deskripsi bahan perpustakaan. Peraturan AACR telah digunakan oleh katoger dalam mendeskripsikan bahan perpustakaan. Selain AACR, kita kenal juga sebuah sarana untuk pengelolaan informasi yang berasal dari sumber digital. Yang selanjutnya pengelolaan sumber digital ini disebut sebagai metadata. Metadata yang banyak digunakan untuk pengelolaan sumber digital antara lain Dublin Core. Sejak awal dublin core dimaksudkan sebagai skema metadata yang dapat dipakai di semua negara, oleh semua jenis komunitas, institusi, dan untuk semua jenis informasi. (Putu Laxman Pendit: 2007, 208)
Format dublin core kini menjadi salah satu format metadata yang juga dikembangkan di Indonesia untuk berbagai data digital.
Kini, dunia perpustakaan dan informasi kembali diajak untuk mendiskusikan topik baru berkaitan dengan hadirnya sebuah format baru deskripsi yang dikenal dengan Resource Description and Access atau RDA resmi menggantikan AACR,
setelah mulai di implementasikan tahun 2010 oleh perpustakaan di AS,
Inggris, Kanada, Selandia Baru, Australia dan akan menyusul Jerman dan
Perancis. Negara-negara lainnya di Asia seperti Singapura, Malaysia,
Thailand, Jepang, China masih dalam proses persiapan
pengimplementasian sistem ini, mungkin termasuk juga PNRI.
RDA dirilis tidak dalam format tercetak seperti AACR tetapi sebagai
web-based tools yang didesain untuk kebutuhan dunia digital dan bisa
dicustomised sesuai dengan besar-kecilnya perpustakaan, jenis
perpustakaan, kebijakan perpustakaan, dll. Meskipun terdapat banyak
perubahan signifikan, RDA dibangun di atas fondasi AACR yang telah
lama digunakan oleh pustakawan untuk menghasilkan jutaan records di
seluruh dunia sejak diterapkan lebih dari beberapa dekade.
Mengapa RDA?
AACR yang selama ini digunakan dibuat berdasarkan pengkategorian jenis
bahan pustaka. Dalam AACR ada bab-bab khusus untuk buku, terbitan
berseri, sound recording, motion pictures, electronic resources, dll.
Struktur masing-masing bab dibuat berdasarkan 8 area yang ada
dideskripsikan dalam ISBD. Saat ini, perbedaan jenis pustaka semakin
kabur seiring perkembangan teknologi informasi dan multimedia.
AACR dikembangkan di era katalog kartu dan banyak terminologi dalam
AACR yang digunakan saat ini masih merefleksikan situasi tersebut,
seperti misalnya “heading”, “main entry”, dan “added entry”.
Modifikasi istilah sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini
dianggap belum cukup untuk menjadikan AACR relevan dengan dunia
digital.
RDA dibuat berdasarkan model konseptual Functional Requirements for
Bibliographic Records (FRBR), Functional Requirement for Authority
Data (FRAD), dan Functional Requirement for Subject Authority Records
(FRSAR). Model ini merupakan konsep entities, relationship, and
attributes atau metadata yang dikembangkan oleh IFLA.
Model konseptual dipandang lebih relevan di era informasi saat ini
karena dapat membantu memahami domain yang digambarkan. Dalam RDA
tugas cataloguer antara lain,
1. Mengidentifikasi dan mendefisinikan hal-hal yang penting (entities)
2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan hubungan (relationship) antar entities
3. Mengidentifikasi dan mendefinisikan attribute yang merupakan karakter dari entities.
Sebagai contoh untuk relationship antar entities, dalam record RDA
cataloguer dapat membuat “The fellowship of the ring” memiliki sequel
“the two towers”; atau mendefinisikan Frank Seiberling adalah pendiri
Goodyear Tire and Rubber Co.
Struktur RDA
RDA dikelompokan menjadi tiga model konseptual:
I. FRBR atau konsep entitas, terdiri dari
A. Work, core elements:
1. Title of work
2. Date of work
3. Place origin of the work
4. Form of work
5. Other distinguishing characteristic of the work
6. Identifier for the work
7. Medium of performance
8. Dll.
B. Expression, core elements:
1. Date of expression
2. Language of expression
3. Content type
4. Identifier for the expression
5. Accessibility content
6. Illustrative content
7. Form of notation
8. Source consulted
9. Status of identification
10. Dll.
C. Manifestation, core elements:
1. Title
2. Distribution statement
3. Manufacture statement
4. Publication statement
5. Copyright date
6. Carrier type
7. Media type
8. Dimensions
9. URL
10. Preferred citation
11. Note
12. Terms of availability
13. Contact information
14. Restriction on use
15. Restriction on access
16. Production statement
17. Digital file characteristic
18. Mode of issuance
19. Frequency
20. Font size
21. Book format
22. Dll.
D. Item
1. Custodial history of item
2. Immediate source of acquisitions of item
3. Item-specific characteristic
4. Dll.
Istilah work, expression, manifestation, dan item adalah untuk
memperjelas istilah membingungkan yang ada di dalam cataloguing rules.
Misalnya, ketika kita mendefinisikan “buku” sebagai objek fisik yang
merupakan kumpulan kertas terjilid, maka RDA menyebutnya sebagai
“item”.
Ketika kita mengatakan buku sebagai jenis bahan publikasi yang berada
di toko buku dan memiliki ISBN, RDA menyebutnya sebagai
“manifestation”. Ketika kita mendapatkan suatu buku yang merupakan
penerjemahan atau variasi dari karya seseorang, RDA menyebutnya
sebagai “expression”. Dan ketika kita mengatakan buku sebagai konsep
isi yang menjadi dasar bagi karya-karya lain dalam berbagai versi
bahasa atau ide-ide seseorang dalam sebuah buku, RDA menyebutnya
sebagai“work.”
Bila didefinisikan lebih lanjut, Work adalah karya intelektual atau
artistic seseorang yang masih merupakan entitas abstrak. Misalnya LOTR
oleh Tolkien. Expression adalah realisasi suatu karya dalam format
tertentu, misalnya suatu bahasa. Seperti juga Work, Expression masih
merupakan konsep abstrak. Manifestation adalah perwujudan fisik dari
expression suatu karya. Misalnya seluruh edisi LOTR di edit oleh
Harold Bloom dan diterbitkan Roundhouse tahun 2001. Manifestation
direpresentasikan dalam bibliographic record. Sedangkan Item adalah
eksemplar dari Manifestation, atau biasa yang disebut sebagai copy.
II. FRAD, terdiri dari
A. Persons
1. Name of the persons
2. Fuller form of name
3. Date associated with the the person
4. Identifier for the person
5. Field of activity of the person
6. Profession or occupation
7. Biographical information
8. Language of the person
9. Gender
10. Affiliation
11. Address of the person
12. Place of birth
13. Place of death
14. Place of residence
15. Source consulted
16. Dll.
B. Families
1. Name of the family
2. Place associated with the family
3. Prominent member of the family
4. Hereditary title
5. Familiy history
6. Dll.
C. Corporate Bodies
1. Name of the corporate body
2. Associated institution
3. Identifier for corporate body
4. Corporate history
5. Number of a conference
6. Dll.
III. FRSAR
A. Concepts
B. Objects
C. Event
D. Places
Perubahan siginfikan lain yang ada di RDA jika dibandingkan
pendahulunya, AACR adalah RDA mengkonsultasi pengembangan sistem
kategorisasi dengan perpustakaan dan penerbit. Kategorisasi ini akan
menghapus istilah GMDs dan SMDs yang digunakan dalam AACR dengan
menggantinya dengan tiga elemen terpisah : media category, type of
carrier, dan type of content.
Pada RDA penekanan pada relationships juga diutamakan, antara lain:
1. Kaitan antara entitas kelompok FRBR yang terhubung dengan resource
2. Hubungan antar masing-masing karya intelektual
3. Hubungan antara suatu karya dan penciptanya
4. Hubungan antara persons, families, dan corporate bodies.
Penutup
Dari berbagai pendapat yang ada maka dapat penulis ungkapkan pendapat bahwa masa depan kegiatan kataloger tetap ada di perpustakaan, kataloger di perpustakaan tetap dibutuhkan untuk mengelola berbagai data dan informasi yang berkembang di perpustakaan. Pengembangan diri dan kemampuan kataloger malah semakin dituntut lebih luas lagi dalam mengantisipasi berbagai perubahan yang cukup dinamis dalam kegiatan perpustakaan.
Daftar Pustaka
Indonesia. Undang-Undang No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007
Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia, 1993.
Putu Laxman Pendit. Perpustakaan Digital: perspektif perpustakaan perguruan tinggi Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2007
Karen Coyle, Gordon Dunsire. Trepidation or anticipation, the future of cataloguing and catalogers. www.slideshare.net/…/the-future-o-cataloging-and-catalogers-presentation-
Michael Gorman. What is the future of cataloguing and cataloguers? http://archive.ifla.org/IV/ifla63/63gorm.htm, diunduh 27 Oktober 2010
Muhammad Irsyad Alfatih. Resource Description and Access atau RDA resmi menggantikan AACR
Echols, John M. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1991.
RDA: Resource Description & Access. http://www.rdatoolkit.org/, diunduh 28 OKtober 2010
Melvil Dewey : Peletak Dasar Klasifikasi di Perpustakaan
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 14.32Melvil Dewey di dalam dunia perpustakaan bukanlah nama asing lagi. Namanya telah dikenal luas di dunia perpustakaan. Melvin Dewey dikenal sebagai peletak dasar pengklaifikasian koleksi di perpustakaan. Dialah yang pertama kali mengenalkan secara baku pengklasifikasian di perpustakaan yang dikemudian hari dijadikan sebagai standar baku dalam pengklasifikasian koleksi di perpustakaan.
Melville Louis Kossuth Dewey atau yang lebih dikenal dengan nama Melvil Dewey dilahirkan di Adam Center dekat Watertown, New York pada tanggal 10 Desember 1851. Dia adalah anak termuda dari lima orang bersaudara. Ayahnya adalah seorang pembuat sepatu dan pelayan toko, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa.
Dewey muda tercatat sebagai mahasiswa di Amherst College pada tahun 1870. Dia menyelesaikan pendidikan diplomanya di perguruan tinggi tersebut pada tanggal 9 Juli 1874. Ketika dia menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut, dia juga bekerja sebagai asisten pustakawan sampai dengan tahun 1876. Ketika bekerja di Perpustakaan Amherst College, Dewey telah mulai melakukan pengklasifikasian pada koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan tersebut. Dia mengelompok-lompokkan koleksi dalam satu bidang ilmu yang sama ke dalam satu tempat yang sama. Hal inilah yang dikemudian hari akan lebih berkembang dan menjadi peletak dasar pengklasifikasian di perpustakaan.
Pada tahun 1876 sampai dengan tahun 1883 dia bekerja di Boston dan pada tahun 1883 sampai dengan 1888 dia tercatat sebagai pustakawan di Universitas Kolombia di New York.
Dewey muda dikenal sebagai orang yang cerdas. Pemikiran-pemikiran kritisnya terhadap hal-hal yang menyangkut perkembangan dunia kepustakawanan menjadi dasar perubahan di dalam dunia kepustakawanan itu sendiri. Beberapa orang yang membuat biografi tentang Dewey mengungkapkan bahwa Dewey adalah sosok figure yang luar biasa. Bahkan beberapa diantaranya menyebut dia sebagai Bapak Kepustakawanan Amerika.
Ketertarikannya untuk melakukan mengelompok-mengelompokan koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan telah dimulai sejak dia masih tercatat sebagai mahasiswa di Amherst College. Bahkan sebelumnya, hal itu telah dia lakukan ketika dia masih tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya. Hal sederhana yang dia lakukan adalah dengan mengelompok-ngelompokkan semua peralatan dapur milik ibunya.
Hal yang mendasari pemikiran Dewey muda ketika itu adalah ketika dia melihat dari beberapa perpustakaan di New York yang pernah didatanginya belum memiliki sistem yang praktis yang dapat membantu pengguna perpustakaan untuk dapat menemukan koleksi yang dibutuhkan. Menurut pandangan Dewey pada waktu itu, masih banyak waktu terbuang yang dilakukan baik oleh pustakawan maupun pengguna perpustakaan untuk dapat menemukan koleksi yang dibutuhkan. Hal inilah yang mendorong ketertarikan dari Dewey terhadap sistem organisasi koleksi perpustakaan.
Konsep dan dasar operasi yang dia pergunakan untuk merancang sistem organisasi koleksi perpustakaan adalah sebagaimana yang pernah dia lakukan pada saat dia bekerja sebagai pustakawan di Amherst College. Dia mencoba merancang sebuah sistem yang dapat membantu seseorang untuk dapat seefisen mungkin menemukan koleksi yang dibutuhkan di perpustakaan. Dia mencoba membuat sebuah sistem yang dapat dipergunakan secara fleksibel dan sebuah sistem yang sederhana yang mudah dipahami.
Dewey membagi sistem klasifikasi dalam sepuluh golongan dasar yaitu untuk klasifikasi umum (000), psikologi dan filsafat (100), agama (200), ilmu sosial (300), bahasa (400), ilmu alam dan matematika (500), ilmu terapan (600), seni (700), kesusastraan (800) dan geografi sejarah (900). Sepuluh klas utama ini dibagi dalam sepuluh divisi, dan setiap divisi ini dibagi dalam seksi-seksi hingga sampai pada tingkatan paling kecil yang sekiranya dapat mewakili dari isi koleksi yang diklasifikasikan.
Pada tahun 1876, Dewey mempublikasikan hasil pemikirannya ini pertama kali. Dewey mempublikasikan hasil pemikirannya ini dalam Dewey Decimal Clasification : A Classification and Subject Index for Cataloguing and Arranging the Books and Pamphlets of Library. Terdapat beberapa tokoh di bidang kepustakawanan pada masa itu yang memberikan tanggapan atas hasil pemikiran Dewey ini. Di antara adalah W.C Berwick Sayers dan Paul Salvan. Mereka berdua memberikan tanggapan bahwa apa yang dihasilkan oleh Dewey ini akan membawa sebuah perubahan yang mendasar di dunia kepustakawanan. Mereka berdua mengungkapkan bahwa ini adalah sebuah reformasi di bidang kepustakawanan.
Beberapa tahun sebelum hasil pemikiran Dewey dipublikasikan secara luas, di Amerika Serikat sekitar tahun 1850-an telah muncul tuntutan pembentukan “national union catalog” yang akan menghimpun katalog berbagai perpustakaan. Pada tahun-tahun tersebut, para pustakawan menyadari bahwa mereka sudah terbiasa mengelola koleksi perpustakaan tetapi belum mempunyai prosedur maupun alat simpan dan temu kembalinya. Pada tahun-tahun tersebut ada seorang pustakawan yang bernama William Frederick Poole dari Yale College. Dia merancang “collective index” untuk memecahkan permasalahan tersebut. Tetapi apa yang telah dibuat oleh Poole belumlah bisa memberikan jawaban atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh para pustakawan pada masa itu. Hingga pada tahun 1876, American Library Association (ALA) mengenalkan sistem organisasi koleksi perpustakaan yang dirancang oleh Dewey. Hal yang perlu diketahui, Dewey adalah salah satu pendiri American Library Association.
Pada tahun 1876, Melvil Dewey mendirikan sebuah yayasan yang dipergunakan untuk mendukung pengembangan dunia kepustakawanan. Yayasan yang didirikan oleh Dewey ini memberikan suplai jangka panjang perlengkapan-perlengkapan yang berkaitan dengan kebutuhan perpustakaan, seperti kartu catalog. Dari hal tersebutlah kemudian dikenalkan adanya standarisasi dalam kartu catalog.
Kiprah Melvil Dewey di dunia kepustakawanan tidak hanya sebatas menghasilkan Dewey Decimal Classification saja, dia jugalah yang mendirikan the School of Library Economic di Colombia College pada tanggal 5 Mei 1887. Dari sinilah perkembangan pendidikan kepustakawanan di Amerika Serikat dimulai. Pada tahun 1889, sekolah ini dipindahkan ke Albany, New York dan berubah nama menjadi New York State Library School. Di samping itu, pada tahun 1895, Dewey mengenalkan juga the Universal Decimal Classification yang dipergunakan sebagai acuan pengklasifikasian pada perpustakaan khusus.
Dari apa yang telah diungkapkan di atas dapat kita ketahui, Melvil Dewey memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perkembangan di dunia kepustakawanan. Hasil pemikirannya yang dihasilkan dalam bentuk Dewey Decimal Classification, memberikan sebuah perubahan di dalam dunia perpustakaan. Dewey tidak hanya dikenal sebagai pustakawan, tetapi dia juga dapat kita sebut sebagai pendidik dan ilmuwan di bidang perpustakaan. Konsep-konsep pemikirannya memberikan banyak manfaat, yang mana manfaatnya tersebut dapat kita rasakan hingga saat ini. Membantu kita para pustakawan dalam mengelola sistem temu kembali di perpustakaan. Harapan-harapan kita ke depan, dapat bermunculan Dewey-dewey yang lainnya yang dapat memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perkembangan dunia kepustakawanan, terutama dunia kepustakawanan di Indonesia.
Daftar Pustaka
Elliot, Anna. “Melvil Dewey : A Singular and Contentious Life.” Wilson Library Bulletin, May, 1981.
Niculescu, Zenovia. “Melvil Dewey’s Personality.” Library Journal, Agustus, 1991.
Rayward, W. Boyd. “Melvil Dewey and Education for Librarianship.” Journal of Library History, Oktober, 1968.
York, Barry. “Melvil Dewey : Cataloguer Extraordiordinaire.“ National Library of Australia News, April, 1998.
Kepuasan Pemakai dan Peningkatan Kualitas Berbasis Pemakai : Pendekatan Manajemen Pemasaran sebagai Paradigma Baru Perpustakaan (bagian 1)
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 09.52Konsumen adalah raja. Suatu ungkapan yang sangat familiar di telinga dan pikiran semua orang. Di dunia pemasaran ungkapan tersebut menjadi suatu harga mati yang harus diterapkan. Bahkan begitu merasuknya dalam praktek keseharian, ungkapan tersebut sudah menjadi lelucon atau bahan olokan bagi pelaku bisnis. Tidak sedikit konsumen salah menafsirkan ungkapan tersebut sehingga lagak, gaya dan tuntutannya benar-benar mengidentikkan diri sebagai seorang raja. Segala sesuatu harus dilayani dengan sempurna. Kejadian dan sikap berlebihan tersebut seringkali menjadikan seorang karyawan merasa dongkol dan berdampak pelayanan yang diberikan tidak sesuai ketentuan perusahaan.
Pada hakekatnya konsumen yang menghidupi seluruh karyawan. Perusahaan memproduksi barang atau jasa ditujukan kepada konsumen. Konsumen membayar manfaat yang diperoleh dari produk barang atau jasa yang dinikmatinya. Bila pasar berjalan dengan sempurna, di mana konsumen mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhannya, maka produsen harus benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen. Produsen yang mampu memahami dan memenuhi kebutuhan konsumen, dan konsumen merasa puas terhadap kinerja dan layanan yang diberikan akan mampu bertahan di era global. Konsumen merupakan faktor kunci sukses (key succes factor/KSF).
Memahami karakteristik konsumen merupakan hal yang sangat fundamental. Maka pola pikir yang dibangun perusahaan atau organisasi juga harus mengikuti logika konsumen. Pada tataran ini akan timbul konsep yang dikenal dengan customer value (nilai konsumen). Mulyadi (2001:230) mendefinisikan customer value sebagai selisih antara manfaat yang diperoleh konsumen dari produk barang atau jasa yang dikonsumsi dengan pengorbanan yang dilakukan konsumen untuk memperoleh manfaat itu. Manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dilakukan oleh konsumen ditentukan oleh tingkat kualitas hubungan yang dibangun antara produsen dan konsumen.
Praktik di dunia pemasaran dan jasa tersebut juga terjadi di ranah perpustakaan. Pembeli atau konsumen di perpustakaan disebut pengunjung atau pemakai (user). Perpustakaan harus jeli melihat pasar dan menentukan segmentasi pemakainya. Di perpustakaan perguruan tinggi, sivitas akademika perguruan tinggi merupakan segmen utama yang harus dilayani. Pada perpustakaan umum pemakai utamanya adalah penduduk di wilayah perpustakaan umum tersebut, terutama penduduk yang tidak dapat lagi memperoleh akses pada pendidikan formal.
Perpustakaan merupakan suatu lembaga penyedia jasa informasi yang sebagian besar bertujuan tidak untuk mencari keuntungan atau nirlaba. Pada banyak praktik di Indonesia, karena institusi bersifat nirlaba, maka kualitas layanan kepada pemakai tidak menjadi prioritas. Bekerja asal tidak melanggar aturan, target pencapaian minimal dan rendahnya budaya kualitas adalah gambaran yang jamak terjadi, demikian pula dengan perpustakaan. Sorotan dan tuntutan terutama pada pegawai negeri sipil sangat besar. Slogan layanan prima hanya ada pada pelatihan dan seminar belaka.
Sementara itu perubahan paradigma manajemen jasa sangat cepat. Di negara maju pendekatan prinsip pemasaran sudah dilakukan oleh perusahaan jasa hampir seabad silam. Pemakai merupakan faktor utama eksistensi dan operasionalnya suatu institusi, terlebih lagi institusi penyedia jasa. Perubahan paradigma yang terjadi digambarkan dengan jelas oleh pakar pemasaran Indonesia yaitu Hermawan Kertajaya. Kertajaya membuat suatu kredo yang terkenal dengan The 10 Credos of Compassionate Marketing di mana kredo kedua adalah ”BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO TRANSFORM” dengan tambahan keterangan yang menyebutkan:
“Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah. Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi. Globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar. Kalau kita tidak sensitif dan tidak cepat-cepat mengubah diri, maka kita akan habis”
Sudah menjadi keharusan bagi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia agar mampu bersaing di lingkungan global. Menurut Mulyadi (2001:256) keberhasilan organisasi dalam memasuki lingkungan global dipengaruhi oleh empat faktor yaitu :
1. Kecepatan organisasi dalam merespon kebutuhan pemakai/konsumen;
2. Fleksibilitas personil dalam penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan bisnis, kemampuan belajar keterampilan baru, kebersediaan memasuki lingkungan baru yang sama sekali belum pernah dikenal;
3. Keterpaduan antara organisasi dengan stockholder untuk memenuhi kebutuhan pemakai; dan
4. Kemampuan organisasi untuk menciptakan produk baru dan proses baru untuk memenuhi perubahan kebutuhan pemakai/konsumen.
Promosi Sebagai Media Pemberdayaan Perpustakaan
0 komentar Diposting oleh Endhar Priyo Utomo di 10.40Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedang pada pasal 45 (1) dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.
Salah sarana yang amat penting, tetapi bukan satu-satunya adalah perpustakaan yang
harus memungkinkan para tenaga kependidikan dan para peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan membaca bahan
pustaka yang mengandung ilmu pengetahuan yang diperlukan. Hal ini mengandung arti
bahwa dalam penyelenggaraan sekolah sebagai satuan pendidikan pada jalur formal
dipersyaratkan untuk menyediakan sarana pendidikan yang sesuai dengan perkembangan
fisik, kecerdasan, intelektual, sosial , emosional, dan psikis peserta didik.
Namun dalam pelaksanaannya, penyelenggaraan perpustakaan sekolah banyak mendapat kritik karena berbagai kelemahannya. Kritik ini terutama ditujukan pada peran perpustakaan sekolah itu sendiri yang belum mampu menunjang proses kegiatan belajar peserta didik secara optimal (Sulistyo-Basuki, 1991:50). Dengan segala keterbatasannya akhirnya perpustakaan sekolah hanya berfungsi sebagai pelengkap dari satuan pendidikan formal. Hal ini memperlihatkan lemahnya peran perpustakaan sekolah dalam menunjang proses belajar siswa di sekolah.
Beberapa alasan penyebab tidak maksimalnya perpustakaan dalam menjalankan tugas
dan fungsinya, antara lain :
(1) kurangnya pemahaman/pengertian terhadap essensi
perpustakaan sebagai infrastruktur dalam menyediakan informasi (baik dari pihak kepala sekolah, guru dan siswa)
(2) pengelola perpustakaan sekolah tidak optimal dalam memberikan jasa layanan terutama rangka memenuhi kebutuhan informasi pemakai
(3)kurang terpeliharanya komunikasi antara perpustakaan sekolah dengan masyarakat
pemakainya.
Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan aktivitas promosi untuk dapat meningkatkan
pemberdayaan perpustakaan sekolah dengan sasaran terwujudnya optimalisasi sumberdaya
perpustakaan.
Problematika dalam pengelolaan perpustakaan sekolah
Dalam pengelolaan perpustakaan sekolah, seringkali diperhadapkan dengan berbagai
kendala diantaranya :
1. Ruang Perpustakaan
Tidak semua sekolah memiliki ruang perpustakaan tersendiri. Umumnya sekolah-
sekolah tidak menganggap hal itu sebagai suatu masalah. Akibatnya banyak sekolah yang
menjadikan ruang-ruang sempit untuk perpustakaan. Misalnya di gang-gang antar kelas, di perumahan yang tidak terpakai, bahkan sangat mungkin bercampur dengan ruang guru atau tata usaha.
2. Koleksi Bahan Pustaka
Dalam pengembangan koleksi bahan pustaka, pada umumnya sekolah-sekolah di
Indonesia hanya mengharapkan datangnya bahan pustaka dari pemerintah. Tidak ada
upaya untuk mencari atau mendapatkan dari cara yang mandiri. Akibatnya bahan pustaka
tidak seimbang prosentase antar golongan/klasifikasi. Dari hasil pantauan selama ini, bahan pustaka koleksi perpustakaan sebagian besar terdiri dari buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita/dongeng yang tidak menunjukkan adanya rencana pengembangan perpustakaan. Memang ada sedikit sekolah yang menyertakan surat kabar atau majalah di perpustakaannya, namun itupun tidak rutin dan sekedar menjadi jangan kepantasan atau pelengkap belaka. Lebih parah lagi jika buku-buku perpustakaan isimpan di almari tertutup dan hanya dipinjamkan kepada murid sepanjang diperlukan.
3. Anggaran
Anggaran untuk pengembangan perpustakaan pada umumnya tidak menentu. Tidak ada ketentuan secara pasti berapa anggaran pengembangan perpustakaan secara rutin
dapat diperoleh dari suatu sumber. Anggaran hanya didapatkan dari pungutan murid-murid sepanjang diperlukan saja. Kadang-kadang ada yang mengenakan denda bagi murid yang melanggar aturan perpustakaan. Jadi secara umum bisa dikatakan bahwa anggaran perpustakaan sekolah tidak menentu. Jikalau ada alokasi anggaran itupun jumlahnya sangat minim dibandingkan dengan kebutuhan untuk pengembangan koleksi perpustakaan sekolah Menurut Pedoman Perpustakaan Sekolah yang dikeluarkan IFLA/UNESCO , anggaran material perpustakaan sekolah paling sedikit adalah 5% untuk biaya per murid dalam sistim persekolahan, tidak termasuk untuk belanja gaji dan upah, pengeluaran pendidikan khusus, anggaran transportasi serta perbaikan gedung dan sarana lain.
4. Tenaga Pengelola
Tenaga pengelola perpustakaan umumnya masih belum memenuhi syarat dan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola perpustakaan. Dan yang menyedihkan bahwa urusan mengelola perpustakaan cenderung diberikan kepada guru yang mau saja. Bahkan di beberapa sekolah yang ditugaskan mengelola perpustakaan adalah tenaga yang tidak memiliki ijin mengajar, seperti guru yang terkena peraturan, tenaga tata usaha, yang kesemuanya jauh dari persyaratan yang ada.
5. Partisipasi Pemakai
Para siswa pada umumnya hanya tahu soal meminjam dan membaca buku perpustakaan saja dan itupun dilakukan dalam waktu yang teramat singkat, yaitu pada jam-jam istirahat. Sedikit sekali sekolah yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk membaca di perpustakaan dengan waktu yang cukup , misalnya dengan memasukkan aktifitas membaca sebagai bagian dari kurikulum. Demikian juga tidak banyak di antara siswa-siswa yang berpikir soal bagaimana perpustakaan ini bisa maju. Keadaan ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi dimana siswa sama sekali tidak memiliki minat baca.
Soal minat baca di banyak sekolah di Indonesia memang masih rendah. Ironisnya
jarang pihak sekolah yang mau berpikir bagaimana mengatasi masalah hal ini.
Kondisi tersebut di atas merupakan kendala bagi perpustakaan sekolah untuk bisa
menjalankan tugas dan fungsinya terutama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat
pemakaiya.
Oleh sebab itu perlu ada upaya meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan dengan
melibatkan semua unsur dalam sekolah untuk meningkatkan pemberdayaan perpustakaan
sekolah. Pengembangan perpustakaan hendaknya juga menjadi prioritas program sekolah
dalam bentuk penyediaan dana dan sumberdaya yang lain. Disamping itu juga perlu ada
upaya mempromosikan perpustakaan sekolah kepada seluruh komponen sekolah sehingga
keberadaannya bisa diketahui oleh semua pihak.
Promosi Perpustakaan Sekolah
Membahas masalah promosi tidak bisa dipisahkan dari pemasaran, oleh karena
promosi itu sendiri merupakan salah satu unsur bauran pemasaran (marketing mix).
Keempat bauran pemasaran yang dimaksud adalah produk, harga, distribusi & lokasi, dan
promosi. Kotler (1984) menjabarkan pemasaran sebagai suatu organisasi pengelolaan yang menganut pandangan bahwa tugas/kunci organisasi adalah menetapkan kebutuhan dan
keinginan pasar yang menjadi sasaran dengan tujuan memberikan kepuasan yang
diinginkan. Pada bagian lain dinyatakan juga bahwa pemasaran adalah satu proses sosial dengan mana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan
kelompok lainnya. Definisi pemasaran tersebut mengacu pada konsep pokok sebagai berikut : kebutuhan, keinginan dan permintaan; produk; nilai (value) dan kepuasan; pertukaran atau transaksi;pasar; serta pemasaran dan pemasar. Muchiyidin (1980:4) memberikan batasan promosi perpustakaan sebagai upaya yang esensial dari pihak perpustakaan, agar hakekat dan fungsi serta tujuan perpustakaan dapat memasyarakat bagi kepentingan para pemakainya. Sedangkan Mahardjo (1975:32) menjabarkan promosi perpustakaan sebagai usaha-usaha atau tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memberi dorongan-dorongan, penggalakan atau bantuan memajukan
Perpustakaan Universitas Negeri Malang
perpustakaan. Wirawan (1982:2) mendiskripsikan promosi perpustakaan sebagai suatu
aktivitas untuk menarik dan meningkatkan penggunaan perpustakaan. Dari aspek
komunikasi Edsall sebagaimana dikutip Sukaesih (1995) memandang promosi sebagai
suatu bentuk komunikasi yang meliputi tiga aspek yaitu memberitahu (to inform),
mempengaruhi (to influence) dan membujuk/merayu (to persuade).
Aktivitas promosi perpustakaan sebenarnya merupakan perwujudan dari fungsi
informatif sehingga dengan adanya promosi diharapkan akan ada reaksi dari pemakai, baik aktual maupun potensial yang muncul dalam berbagai bentuk mulai dari tumbuhnya
kesadaran atau tahu akan keberadaan perpustakaan, sampai kepada tindakan untuk
memanfaatkannya. Hal tersebut sesuai dengan tujuan promosi perpustakaan yang dikemukakan oleh Bohar (1985:132), yaitu untuk merubah sikap dan pandangan
masyarakat terhadap perpustakaan dari yang tidak tahu atau acuh tak acuh, mejadi
memahami dan menyenangi perpustakaan serta ingin memanfaatkannya.
Secara rinci Muchydin (1980:4-5) menyebutkan tujuan perpustakaan, yaitu :
(a) mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat;
(b) menanamkan pengertian tentang hakekat dan fungsi perpustakaan;
(c) menunjukkan tata cara penggunaan perpustakaan;
(d)menempatkan perpustakaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pemakai;
(e)memberikan bimbingan dan pengarahan dalam praktek pendayagunaan perpustakaan;
(f)meningkatkan pengertian dan kualitas pendayagunaan perpustakaan.
Untuk meningkatkan pemberdayaan perpustakaan sekolah, perlu dilakukan pengadaan
berbagai fasilitas dan sumberdaya sebagai unsur pendukung dalam memenuhi kebutuhan
pemakai. Diantaranya pengadaan berbagai jenis bahan pustaka, peralatan audio-visual serta perangkat keras (hardware) berupa komputer untuk CD Rom dan otomasi perpustakaan. Modernisasi fasilitas perpustakan perlu dilakukan sebab cara-cara atau metode konvensional sudah tidak lagi bisa mendukung dalam pengelolaan perpustakaan terutama dalam menghadapi ledakan informasi serta kebutuhan pemakai yang semakin meningkat dan kompleks. Beberapa strategi yang bisa digunakan dalam melaksanakan kegiatan promosi perpustakaan sekolah adalah :
1. Menerbitkan Buku Pedoman Perpustakaan Sekolah
Buku Pedoman Perpustakaan yang dimaksud berisi informasi tentang kegiatan perpustakaan, jenis layanan, prosedur, koleksi, peraturan dan lain-lain yang kerkaitan dengan aktivitas perpustakaan. Buku Pedoman Perpustakaan biasanya merupakan salah satu bab dari Buku Pedoman Sekolah yang bersangkutan, yang diterbitkan setiap tahun ajaran baru yang dibagikan kepada setiap siswa.
Penerbitan buku pedoman tersebut dimaksudkan agar semua siswa pada umumnya dan
khususnya siswa baru mengetahui esensi dan eksistensi perpustakaan sehingga timbul
minatnya untuk berkunjung ke perpustakaan yang pada akhirnya diharapkan dapat
memanfaatkan layanan perpustakaan.
2. Kontak Perorangan
Promosi secara kontak perorangan dilakukan melalui pertemuan langsung antara
perpustakaan dengan pemakai. Promosi dengan kontak perorangan dapat diatur sedemikian
rupa sehingga mendekati kebutuhan, minat dan pribadi pemakai. Bellardo dan Waldhart
(1981) mengemukakan bahwa penelitian mengenai efektifitas teknik-teknik promosi dan
komunikasi di bidang kepustakawanan & informasi telah membuktikan bahwa kontak
perorangan dari mulut ke mulut merupakan cara yang paling efektif untuk
menyebarluaskan informasi mengenai produk dan jasa perpustakaan dan dalam hal menarik
minat pemakai. Bahkan informasi dari mulut ke mulut ini ternyata lebih efektif dari pada pengiriman surat, brosur, pamflet dan sejenisnya. Kontak perorangan sebagai salah satu teknik promosi yang dilaksanakan di perpustakaan sekolah adalah dalam bentuk ceramah mengenai pendidikan pemakai yang dilaksanakan pada tahun ajaran baru, melalui kegiatan orientasi pendidikan atau pengenalan sekolah yang menitik beratkan pada orientasi perpustakaan sekolah. Materi yang disampaikan berupa pengenalan mengenai tugas, fungsi dan peranan perpustakaan sekolah, peraturan, jenis layanan, koleksi, fasilitas dan staf dengan sasaran agar siswa memahami bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
3. Menyebarkan brosur
Penyebaran brosur kepada pemakai dimaksudkan agar apa yang ada di perpustakaan
sekolah diketahui oleh pemakai, sehingga dengan mengetahui keberadaan perpustakaan
sekolah diharapkan akan timbul minat untuk memanfaatkan sumberdaya perpustakaan.
Brosur tersebut berisi tentang kegiatan perpustakaan termasuk kekayaan yang ada
didalamnya.
4. Penataan Kondisi Fisik Perpustakaan (Atmospheric)
Kotler (1975) mengartikan atmospheric sebagai perancangan lingkungan organisasi
yang diperhitungkan sedemikian rupa, agar menimbulkan dampak kognitif dan/atau
emosional kepada pasar target, sehingga meningkatkan kepuasan pada waktu membeli atau
memanfaatkan produk atau jasa itu.
Penataan lingkungan perpustakaan dalam hal ini mencakup penataan interior dan
eksterior, termasuk di dalamnya fasilitas yang digunakan untuk menciptakan suasana yang kondusif sehingga pemakai yang datang ke perpustakaan merasa senang, tenang dan
nyaman. Untuk memberikan kegairahan sekaligus suasana yang segar, pada jam tertentu
dialunkan musik-musik lembut yang tidak mengganggu bahkan disukai oleh pemakai pada
saat belajar di perpustakaan.
5. Melaksanakan Kegiatan Pendidikan Pemakai
Pendidikan pemakai adalah kegiatan membimbing atau memberikan petunjuk kepada
pemakai dan calon pemakai agar mampu memanfaatkan sumberdaya yang ada di
perpustakaan. Tujuan pendidikan pemakai adalah : (a) meningkatkan keterampilan pemakai agar mampu memanfaatkan kemudahan dan sumberdaya perpustakaan secara mandiri (b)membekali pemakai dengan teknik yang memadai dan sesuai untuk menemukan informasi
dalam subyek tertentu; (c) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya dan layanan
perpustakaan; (d) mempromosikan layanan perpustakaan; (e) menyiapkan pemakai agar
dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK.
Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan pemakai, biasanya menggunakan 2 (dua)
pendekatan, yaitu :
(1) Orientasi perpustakaan, yaitu pendidikan pemakai untuk
memperkenalkan perpustakaan secara umum kepada pemakai baru. Pendidikan ini meliputi
wisata perpustakaan dan/atau peragaan dengan pustaka pandang dengar mengenai fasilitas dan layanan perpustakaan
(2) Pengajaran perpustakaan, yaitu mendidik pemakai agar dapat
menggunakan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan dan di tempat lain.
Dalam pelaksanaan kegiatan promosi, seringkali perpustakaan diperhadapkan dengan
berbagai kendala, diantaranya :
1. Perpustakaan kurang mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan.
Keterbatasan sumberdaya yang ada di perpustakaan menyebabkan perpustakaan kurang
mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan. Padahal kuantitas dan kualitas
layanan merupakan " produk " andalan dalam promosi perpustakaan. Keterbatasan
sumberdaya umumnya disebabkan minimnya anggaran pengembangan perpustakaan atau
pihak pimpinan sekolah tidak menempatkan pengembangan perpustakaan sebagai prioritas
program sekolah, sehingga anggaran yang disediakan untuk perpustakaan sangat minim dan tidak menentu. Disamping itu keterbatasan keterampilan dan pengetahuan dari staf perpustakaan yang ada kurang mendukung terciptanya profesionalisme dalam melaksanakan tugas-tugas kepustakawanan, sehingga berakibat layanan perpustakaan tidak bisa dilaksanakan secara optimal. Perlu diketahui bahwa sikap, keterampilan dan pengetahuan staf perpustakaan dalam layanan berdampak terhadap persepsi dan sikap dan tindakan pemakai dalam merespon keberadaan perpustakaan sekolah. Dari hasil survei memperlihatkan bahwa sukses tidaknya pelayanan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pemakai banyak bergantung dari 3 faktor yang pada hakekatnya dapat diprosentasikan sebagai berikut : 5 % bergantung atas fasilitas, 20 % iakibatkan oleh koleksi/bahan pustaka yang ada dan 75% sebagai result
dari staf perpustakaan yang bersangkutan.
2. Lokasi kurang strategis dan gedung kurang representatif
Salah satu unsur yang menunjang keberhasilan perpustakaan adalah fasilitas gedung,
baik ditinjau dari segi luas, tata ruang, lokasi dan sebagainya. Pada beberapa perpustakaan seringkali gedung perpustakaan menempati lokasi yang tidak strategis dan gedungnya tidak representatif (seadanya) bahkan ada yang bergabung dengan unit kegiatan lain. Sehingga perpustakaan tidak memiliki daya tarik bagi masyarakat pemakainya dan cenderung sebagai pelengkap dari pendidikan formal.
3. Masyarakat akademis belum memandang secara benar terhadap tugas, fungsi dan
peranan perpustakaan sekolah. Hambatan dalam promosi perpustakaan bukan hanya dari pihak penyelenggara perpustakaan saja tetapi sebaliknya juga dari pihak pemakai. Meskipun untuk mendapatkan jasa layanan informasi tidak diperlukan banyak biaya bahkan ada yang tidak sama sekali, tetapi minat dari pemakai dalam hal ini pendidik masih kurang. Ini bisa disebabkan salah satunya dari sistem pendidikan yang diterapkan, apabila pendidik tidak pernah datang di perpustakaan dan tidak menganjurkan kepada peserta didik untuk menggunakan fasilitas yang disediakan perpustakaan, maka akibatnya peserta didik sepenuhnya akan bergantung pada materi yang diberikan oleh pendidik sehingga wawasan peserta didik sangat terbatas.
Dari kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat akademis belum memandang secara benar tugas, fungsi dan peranan perpustakaan sebagai pusat informasi yang menunjang proses pembelajaran.
Oleh sebab itu agar program promosi bisa berhasil, Lock (1977:378) menyarankan agar
dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Menyadari fungsi perpustakaan (dengan koleksinya) sebagai sarana komunikasi
masyarakat
2. Meyakinkan masyarakat bahwa sistem kepustakaannya terorganisir dan dana mencukupi;
3. Meyakinkan masyarakat bahwa staf terdiri dari berbagai macam profesi yang terorganisir
sebagai sebuah tim;
4. Melengkapi perpustakaan dengan gedung dan peralatan lain agar berguna bagi staf
5. Meyakinkan pengambil keputusan agar sadar terhadap kebutuhan dan tuntutan
perpustakaan.
Menurut Bellardo dan Waldhart (1977:12) ada dua klien utama perpustakaan, yaitu
penyandang dana (dalam hal ini sekolah) dan pemakai jasa perpustakaan sekolah. Dengan
demikian kegiatan promosi yang dilaksanakan hendaknya ditujukan kepada kedua klien
tersebut, disamping masyarakat lain di luar sekolah.
Beberapa upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam promosi
perpustakaan sekolah.
1. Meyakinkan pimpinan sekolah tentang essensi perpustakaan sekolah.
Dalam hal ini pengelola perpustakaan perlu meyakinkan pimpinan sekolah sebagai
penyandang dana dan pengambil keputusan bahwa perpustakaan benar-benar merupakan
pusat kegiatan akademis sehingga perlu mendapat dukungan moral dan dana yang
memadai. Oleh sebab itu perpustakaan harus mampu mendemonstrasikan bahwa
sumberdaya yang ada di perpustakaan dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara efektif
dan efisien dalam menunjang proses pembelajaran. Dengan adanya dukungan moral dan
dana dari pimpinan sekolah, maka terbuka peluang bagi perpustakaan untuk (a)
membangun hubungan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam maupun di luar
lingkungan sekolah, (b) merealisir program peningkatan kuantitas dan kualitas
perpustakaan; (c) merubah persepsi masyarakat pemakai untuk memandang secara benar
tugas, fungsi dan peranan perpustakaan.
2. Meningkatkan citra yang positif tentang perpustakaan
Untuk menanamkan pengertian yang positif terhadap essensi perpustakaan sebagai
pusat informasi, perlu ditunjang dengan : (a) ketersediaan koleksi yang lengkap dan sesuai
kebutuhan kurikulum dan pemakai yang ditata sedemikian rupa sehingga memudahkan
penelusuran (b) alat-alat bibliografis yang lengkap dan sistematis, (c) penciptaan iklim
suasana lingkungan perpustakaan yang kondusif (d) ketersediaan staf perpustakaan yang
profesional
3. Menempatkan promosi perpustakaan sebagai salah satu prioritas program
perpustakaan.
Dengan menempatkan promosi perpustakaan sebagai salah satu prioritas program
perpustakaan akan menjadikan kegiatan tersebut mendapat perhatian khusus terutama
dengan adanya dukungan dana, staf dan fasilitas yang lain. Oleh karena itu program
promosi perpustakaan harus dirancang terintegrasi dengan program sekolah secara umum.
Penutup
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan
pemberdayaan perpustakaan sekolah, perlu dilakukan promosi perpustakaan yang
diintegrasikan dengan program sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dibangun
kerjasama sinergis dengan berbagai pihak sehingga pelaksanaan promosi perpustakaan
diharapkan bisa berjalan dengan efektif. Disamping itu petugas perpustakaan secara
proaktif harus dapat meyakinkan semua komponen sekolah tentang pentingnya
perpustakaan sebagai penyedia informasi bagi proses pembelajaran, terutama kepada unsur pimpinan sekolah sehingga pengembangan perpustakaan sekolah dapat dijadikan prioritas program sekolah. Oleh sebab itu perpustakaan sekolah perlu dikelola secara benar dan profesional dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas sumberdaya internal sehingga upaya memenuhi kebutuhan pemakai dapat terwujud yang pada akhirnya pemakai
mendapat kepuasan

